Di Kala Orang Sibuk Panjat Pinang

Bagikan:
Ilustrasi

SIAL banget Sitor (51) nama samaran, jadi orang. Musim warga panjat pinang 17-an, dia malah dituduh panjat bini tetangga. Benar atau tidak tuduhan itu, akibatnya sama: kepala sobek dibabat parang. Untung (bukan nama sebenarnya) bisa berkelit, kalau tidak kan berhenti jadi orang. Janer (40) juga nama samaran, sebagai pelakunya ditangkap polisi.

Memperingati HUT ke-73 RI, di mana-mana rakyat memeriahkan dengan aneka perlombaan disusul panggung hiburan. Paling menarik adalah atraksi lomba panjat pinang. Hadiahnya macam-macam, bisa sepeda, barang elektronik, sampai sembako. Tapi boleh percaya boleh tidak, di kala rakyat heboh panjat pinang, ada juga warga yang sibuk panjat bini orang tanpa berhadiah.

Ny Herlina (40) nama asal comot, warga Sungai Sembilan, Dumei (Riau), tergolong cantik di kelasnya. Meski sudah emak-emak, tapi masih enak, maksudnya enak dilihat begitu. Ditambah sikap dia yang ramah, banyak lelaki yang baper atau GR dibuatnya. Bagi Herlina itu sikap biasa, tapi bagi si lelaki merasa dapat perhatian istimewa.

Banyak memang yang tertarik pada bini Janer ini. Tapi selama ini ya sekadar mengagumi, tanpa niat untuk menggumuli. Sebab menurut fatwa pujangga, secantik-cantiknya bini tetangga itu sekadar ikan hias belaka. Kita hanya bisa puas melihat-lihatnya, tanpa bisa menikmati dagingnya. Padahal kalau kepepet, digoreng ikan hias itu enak juga!

Di seputar peringatan HUT RI , warga menggelar berbagai aneka perlombaan, tak terkecuali lomba panjat pinang. Tapi di sela kesibukan warga, ada yang melihat sekelebat orang malam-malam keluar dari rumah Janer, padahal suaminya sedang tak di rumah.

Siapa pelakunya, tak diketahui jelas. Celakanya, meski tak jelas siapa sosoknya, ada tetangga yang melapor ke Janer. Sang informan tak bisa menunjuk pasti siapa dia. Tapi melihat gerak-geriknya dan postur tubuhnya, kayaknya kok si Sitor.

Dasar Janer sendiri orangnya suka cemburuan, dia langsung menerima mentah-mentah kabar itu. Dia pun lalu memastikan, pastilah dia yang berusaha “panjat” bininya di tengah malam.

Dia sudah mengklarifikasi pada Herlina. Tapi ketika istrinya membantah isu itu, justru Janer berasumsi: mana ada maling ngaku! Maka kecurigaannya pun semakin mengerucut pada satu nama, ya Sitor itu tadi. Janer memang memiliki sejumlah parameter untuk memperkuat tuduhannya. Di antaranya, dia suka melihat Sitor ini sangat akrab dengan istrinya. Jangan-jangan keakraban itu sampai ke yang dalem-dalem juga.

Maka Janer pun jadi tambah marah. Bagaimana mungkin, di musim lomba panjat pinang kok ada yang berani-beraninya “memanjat” dia punya istri. Kenapa tidak panjat tiang bendera yang macet kerekannya saja? Hadiahnya pasti besar. Jika dari Presiden Jokowi, bisa dapat hadiah sepeda dan rumah, atau uang tunai Rp50 juta dari pengacara. Jika mau hadiah dari Panglima TNI Hadi Tjahyanto, bisa dapat bea siswa sampai tamat SMA sebulan Rp1 juta. Enak kan?

Janer mencari-cari Sitor, eh kok ketemu di rumah orang. Langsung saja disamperi, lalu katanya. “He, kamu selingkuhi bini gua, ya? Ngaku saja!” Tentu saja Sitor bingung, kapan bini gua diselingkuhi? Kenapa nggak gua Selarong di Bantul DIY itu.

Sitor membantah tuduhan mbabi micek tersebut. Janer pun jadi makin marah, parang di tangan pun disabetkan ke kepala Sitor. Untung dianya bisa berkelit, sehingga yang terkena hanya pinggiran, itupun sobek juga dia punya kepala. Warga memisah yang sedang berantem. Sitor dilarikan ke rumah sakit, sementara Janer diserahkan ke polisi. Agaknya prinsip; berani main tusuk, parang siap berbicara. (jpnn)

Bagikan: