Kecewa, Wanita Hendak Melahirkan Malah Disuruh Pulang

Bagikan:
Rinda bersama bayinya saat disambangi di kediamannya. (Dzulfadli Tambunan/MSG)

TAPTENG – Namanya Rinda Dini Novia (23), berdomisili di Lingkungan V Kelurahan Pinangbaru, Kecamatan Pinangsori, Tapanuli Tengah (Tapteng). Ibu muda ini mengaku terpaksa melahirkan di rumah pasca disuruh pulang oleh petugas Puskesmas Pinangsori.

Beruntung, saat persalinan yang terjadi pada 31 Oktober 2018 lalu, Rinda tidak mengalami hambatan berarti dan bayi lahir dalam keadaan selamat.

Menurut keterangan Rinda, sebelum melahirkan ia sempat mendatangi Puskesmas Pinangsori yang hanya berjarak 500 meter dari kediamannya. Rinda yang merasa waktunya melahirkan bayi akan tiba kemudian diperiksa di ruang persalinan. Di ruang persalinan itu ia diperiksa oleh bidan Dina Siburian. Namun saat itu bidan yang memeriksa ibu tiga anak ini mengatakan bahwa waktu melahirkan Rinda belum tiba. Oleh Dina, Rinda pun disarankan pulang ke rumah.

“Masih buka tiga, jadi baliklah dulu ke rumah. Nanti kalau sudah tidak tahan, datang lagi kemari,” kata Rinda menirukan ucapan bidan Puskesmas Pinangsori, saat disambangi dikediamannya, Rabu (7/11).

Padahal sambung Rinda, saat itu ia merasakan sakit dan sepertinya sudah saatnya melahirkan. Ia merasa kecewa ketika sampai di Puskesmas Pinangsori malah disuruh pulang ke rumah dengan alasan belum waktunya melahirkan. Ternyata firasat Rinda benar.

Beberapa saat setelah tiba di rumah, tiba-tiba Rinda langsung melahirkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan.

Mengetahui bayi yang ada dalam kandungan Rinda telah lahir, boru Simatupang (52), mertua Rinda, meminta pertolongan tetangga.

Salah seorang tetangga, boru Sinaga langsung bergegas menuju kediaman Rinda. Bersama boru Sinaga, mertua Rinda yang sedikit panik dan kebingungan mengambil sarung dan mengenakannya ke tubuh si bayi yang terlihat kedinginan. Sementara Kennedy Pakpahan, suami Rinda, tidak berada di rumah karena sedang bekerja mencari nafkah.

Selanjutnya, boru Sinaga berlari menuju Puskesmas Pinangsori untuk meminta pertolongan. Namun permintaan wanita yang akrab disapa Mak Arnol ini sempat ditolak bidan, dengan alasan tidak boleh menolong persalinan di rumah warga. Setelah berulangkali diminta tolong, akhirnya permintaan Mak Arnol direspon juga oleh petugas Puskesmas Pinangsori.

“Kami tidak boleh menolong ibu melahirkan di rumah, itu peraturan. Jadi di bawa saja ibu yang melahirkan itu ke Puskesmas ini, baru kami tangani,” kata boru Simatupang menirukan perkataan bidan Puskesmas Pinangsori, sembari menyebutkan pelayanan kesehatan yang diterima menantunya hingga saat ini hanya berupa injeksi satu kali dan obat berupa tablet 3 macam.

Pelayanan yang tidak maksimal yang dipertontonkan petugas Puskesmas Pinangsori dalam menangani pasien bersalin sangat disayangkan berbagai pihak. Kartono Situmeang (60), salah seorang pemerhati sosial di Tapanuli Tengah mengaku sangat heran dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) yang diterapkan pihak Puskesmas Pinangsori.

Menurut dia, bidan yang bertugas harus tahu kapan waktunya sorang pasien akan melahirkan. Dengan tanda-tanda kelahiran yang sudah terlihat, pihak Puskesmas harusnya menempatkan Rinda di Rumah Tunggu Kelahiran (RTK), sebagai tempat tinggal sementara saat menunggu persalinan tiba. Bukannya menyuruh pulang kembali ke rumah.

“Ini namanya penelantaran dan sudah menyalahi protap pelayanan jaminan persalinan. Rinda itu pemilik buku layanan Jampersal yang berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara maksimal,” tegas Kartono.

Agar hal sedemikian tidak terulang kembali, Kartono menyarankan Bupati Tapanuli Tengah Bakhtiar Ahmad Sibarani memberikan sanksi tegas kepada petugas Puskesmas Pinangsori, yang diduga telah melanggar prosedur dan lalai dalam menangani pasien bersalin. Di satu sisi, program Jampersal diluncurkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merupakan bagian dari upaya menekan jumlah kematian ibu yang masih sangat tinggi di saat kehamilan, persalinan dan masa nifas.

“Ini masalah nyawa lho, nggak boleh main-main. Kita minta Bupati Tapanuli Tengah memberikan sanksi berat kepada pengelola Puskesmas Pinangsori, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudain hari,” tukasnya.

Sementara itu saat disambangi di kantornya, Kepala Puskesmas Pinangsori Murni Ariani Harefa SKM yang didampingi bidan Dina Siburian, Kamis (8/11), menerangkan bahwa Rinda Dini Novia bukannya disuruh pulang ke rumah. Rinda hanya disarankan pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang nantinya diperlukan untuk proses persalinan.

“Saat itu Rinda datang hanya sekedar memeriksakan kehamilannya. Karena tidak membawa perlengkapan persalinan kita sarankan pulang dulu mempersiapkan segala sesuatunya,” jawab Ariani.

Terkait kenapa Rinda tidak diarahkan ke Rumah Tunggu Kelahiran, wanita berkerudung ini beralasan Rumah Tunggu Kelahiran yang jauh di daerah jalan Maduma. Sementara rumah kediaman Rinda hanya berjarak 500 meter dari lokasi Puskesmas. Ia juga mengatakan jika Rumah Tunggu Kelahiran itu tempat bagi pasien yang alamatnya jauh.

“Kerena rumahnya dekat dan pasien dalam kondisi buka 3 dan fase laten, kita sarankan untuk mempersiapkan peralatan seperti popok-popok bayi. Kemudian kita pesankan agar segera datang kembali jika merasa sudah sakit,” sebut Dina Siburian menimpali.

Pihak Puseksmas juga menjelaskan jika mereka telah melaksanakan prosedural pelayanan persalinan, dimana setelah mengetahui Rinda melahirkan, dua bidan langsung menuju ke rumah Rinda memberikan bantuan persalinan dengan memotong ari-ari bayi dan memberikan pelayanan kesehatan berupa injeksi dan obat-obatan. Pihak Puskesmas juga menegaskan akan mengunjungi pasien sebanyak 3 kali dalam 40 hari pasca persalinan. “Pasca melahirkan pasien dalam kondisi normal dan tidak ada yang perlu dikuatirkan,” pungkas Ariani. (ztm)

Bagikan: