Miris, Ibu dan Anak Tinggal di Kolong Jembatan

Bagikan:
Boru Manalu bersama anaknya sedang membersihkan barang-barang bekas untuk dijual kembali. (Dzulfadli Tambunan)

MetroTabagsel.com – Seorang ibu paruh baya bersama anaknya Fitri (7), beberapa bulan terakhir bertempat tinggal di bawah kolong jembatan Pinangsori, Kecamatan Pinangsori, Tapanuli Tengah (Tapteng). Fitri yang seharusnya mengenyam pendidikan dasar ini terpaksa mengikuti sang ibu memulung barang bekas untuk menyambung hidup sehari-hari.

Tidak diketahui pasti nama dan dari mana ibu paruh baya ini berasal. Pasalnya saat ditemui di bawah kolong jembatan Pinangsori, Selasa (4/12), komunikasi dengan sang ibu tidak berjalan normal. Namun disebut-sebut, wanita yang mengalami keterbelakangan mental ini berboru Manalu dan berasal dari Kelurahan Kalangan, Kecamatan Pandan. Boru Manalu selalu bungkam saat dilontarkan berbagai pertanyaan. Beruntung, Fitri yang memiliki ayah kandung yang berasal dari Aceh ini bisa sedikit diajak berkomunikasi.

Informasi yang dihimpun dari warga sekitar, Fitri bersama ibunya telah tinggal di bawah kolong jembatan 6 bulan terakhir.

Sebelumnya Fitri bersama sang ibu tinggal di UPT Pelayanan Sosial Gelandangan Pengemis dan Anak, milik Dinas Kesejahteraan dan Sosial Pemprov Sumatera Utara yang berada di Kelurahan Pinangbaru, Kecamatan Pinangsori.

“Enam bulan terakhirlah, dulu sih katanya tinggal di Panti Sosial Pinangbaru. Ngak tau pastilah kenapa mereka keluar dari panti itu,” ujar Sipahutar (63), salah seorang warga sekitar.

Masih dari penelusuran awak media ini, Boru Manalu mulai mengalami ganguan jiwa saat suaminya menikah dengan wanita lain.

Sang suami kembali ke Aceh bersama istri mudanya dan membawa anak laki-laki dari pernikahannya dengan boru Manalu, yang juga abang kandung Fitri. Sejak saat itu, boru Manalu hidup tak tentu arah. Bersama dengan Fitri ia tinggal dari satu tempat ke tempat lainnya. Sementara pihak keluarga lainnya tidak ada yang peduli dengan kondisi yang dialami boru Manalu.

“Sebenarnya orang tua dari boru Manalu dulunya orang terpandang di Kalangan. Entah bagaimana kehidupannya jadi memprihatinkan sampai begitu,” sebut warga lainnya.

Keberadaan boru Manalu bersama anaknya yang pernah tinggal di Panti Sosial Pinangbaru dibenarkan pihak UPT Pelayanan Sosial Gelandangan Pengemis dan Anak Pinangbaru. Salah seorang pegawai kantor tersebut memaparkan bahwa boru Manalu beserta anaknya merupakan titipan Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah. Namun pada masa-masa pembinaan, boru Manalu sepertinya tidak betah berada di panti. Beberapa kali ia bersama anaknya lari dengan cara memanjat pagar.

“Sudah berulangkalilah mereka lari dari sini. Kita jemput, lari lagi,” jawab salah seorang pegawai.

Merasa kewalahan dengan ulah wanita Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) ini, pihak panti menyurati Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari instansi yang mempunyai tugas pokok melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan bidang kesejahteraan sosial itu. “Mereka kan titipan Dinsos Tapteng. Kita sudah menyurati, namun belum ada tanggapan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tapanuli Tengah Parulian S Panggabean, yang dikonfirmasi awak media ini menyebutkan jika pihaknya sedang berupaya keras agar boru Manalu bisa diberangkatkan ke panti rehabilitasi di Berastagi, Tanah Karo. Namun pihaknya mengalami kendala dengan tidak adanya Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari boru Manalu.

Terkait penanganan terhadap Fitri, Parulian menegaskan akan berupaya agar bisa ditempatkan di salah satu panti asuhan yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia mengatakan, jika panti asuhan Sion Aek Horsik, menjadi tujuan utama dari keinginan tersebut.

Dengan beradanya di panti asuhan, Parulian berharap Fitri akan bisa bermain dengan anak-anak seusianya sembari belajar ilmu pengetahuan.

“Kita sedang berkoordinasi dengan Dinas Catatan Sipil dan Kependukan (Dukcapil). Jika KTP yang bersangkutan selesai, akan kita bawa ke Berastagi,” tukas Parulian. (ztm)

Bagikan: