Cuaca Buruk, Wisata Pantai Tutup Sore

Bagikan:
Ilustrasi

MetroTabagsel.com – Cuaca buruk belakangan ini mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tobasa. Instansi itu mengeluarkan peringatan waspada untuk segala aktivitas masyarakat di Danau Toba. Kepada pengelola wisata pantai diminta menutup wisata pantai paling lama pukul 18.00 WIB.

“Pengamatan kita belakangan ini, terjadi angin kencang di Danau yang dapat mengganggu berbagai aktivitas, baik transportasi danau dan wisata pantai. Khusus aktivitas wisata di pantai kita instruksikan paling lama ditutup pukul 18.00 WIB, tidak ada lagi aktivitas wisata air. Ini demi keamanan pengunjung,” tutur Kepala BPBD Tobasa Herbet Pasaribu ketika diwawancarai, Rabu (20/6).

Ditegaskan, kondisi ini menjadi perhatian semua pihak, termasuk wisatawan itu sendiri. Menurutnya, biasanya mulai terjadi angin kencang di Danau mulai pukul 14.00 WIB. Saat itu pengelola pantai sudah harus memantau situasi. “Jika kondisi alam sedang buruk, segera tutup aktivitas wisata di pantai,” tegasnya.

Waspada Kebakaran Hutan

Selain itu, musim kemarau yang sudah berlangsung hampir 1 bulan di wilayah Tobasa menyebabkan hutan kering dan mudah terbakar. Di beberapa titik sudah terjadi kebakaran hutan, seperti di Desa Peatalun dan Sibuntuon Kecamatan Balige, serta beberapa titik di Siruar.

Meski kebakaran tidak dalam skala besar, namun jika kondisi seperti itu tetap terulang, maka ekosistem alam akan rusak parah. Hal itu sangat merugikan masyarakat, baik dari sisi kesehatan, ekonomi dan kegiatan masyarakat lainnya.

Menyikapi hal itu, Herbet mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap terjadinya bencana kebakaran, terutama lahan dan hutan. Kepada masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktifitas pembakaran lahan secara sporadis yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan skala besar dan bencana kabut asap.

“Saya harap masyarakat sadar akan pentingnya keberadaan dan kelangsungan ekosistem alam. Mengerti  dan taat aturan yang ditetapkan pemerintah,” katanya.

Diterangkan, guna meminimalisir terjadinya kebakaran hutan di wilayahnya, pihaknya telah menyampaikan surat edaran hingga ke tingkat desa. Diminta kepada seluruh masyarakat untuk selalu berhati-hati dalam melakukan pembakaran lahan, khusunya saat musim kemarau, seperti situasi saat ini. Sebab menurutnya, ketika kebakaran hutan terjadi, akan cepat merambat. Sedangkan upaya pemadaman sangat sulit dilakukan.

“Harapan kita, semua masyarakat peduli. Kemudian perlu kami ingatkan, melakukan pembakaran hutan ada ancaman pidananya. Jangan sampai masyarakat nanti berurusan dengan hukum,” pungkasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), terjadi kebakaran hutan skala besar di beberapa titik wilayah Tobasa pada Maret hingga Agustus 2016 lalu. Dimana tercatat sebanyak 120,04 Ha hutan di daerah itu hangus terbakar. Seluas 94,7 diantaranya kawasan huntan, dan 25,34 lahan masyarakat.

Detail lokasi kebakaran yakni, di Sosor Dolok (4/3) seluas 3 Ha, Silalahi Dolok (14/3 dan 17/3) seluas 1,04 Ha, Longat (29/8 s/d 4/4) seluas 39,7 Ha, Dolok Sianipar Sihail-hail (10/6) seluas 3 Ha, Sibuntuon (28/6 dan 30/6) seluas 7,6 Ha, Hutagaol (1/7) seluas 4,5 Ha, Aek Bolon Jae (2/7) 6 Ha, Gurgur Aek Raja (03/7 dan 05/7) seluas 9 Ha, Hinalang (6/7) 9,7 Ha, Simanjalo (2/8 dan 3/8) seluas 3,5 Ha, Dolok Silalahi (2/8) seluas 1,8 Ha, dan Dolok Silalahi (8/8) seluas 6 Ha.
Lokasi kebakaran ini menjadi daerah rawan bencana kebakaran dalam situasi cuaca buruk yang saat ini sedang berlangsung di wilayah Tobasa. (Ft)

Bagikan: