Menu

Dua Santri Meninggal di Kolam PT SMGP, Wakil Rakyat Minta Polisi Usut Tuntas

  • Linkedin
Evakuasi salahsatu santri yang tewas tenggelam.

MADINA – Peristiwa di kolam penampungan air milik perusahaan panas bumi PT SMGP di Mandailing Natal (Madina) yang menyebabkan dua warga meninggal dunia pada Sabtu pagi (29/9) mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari anggota DPRD Madina.

AS Imran Khaitami Daulay SH, salah satu anggota DPRD Madina dari Fraksi Partai Golkar kepada Metro Tabagsel, Senin (1/10) mengatakan, kejadian tersebut harus diusut tuntas dan diproses secara hukum. Guna memastikan apakah ada unsur kesengajaan, kejanggalan atau unsur tindak pindana atas meninggalnya dua orang warga.

“Hendaknya pihak kepolisian lakukan penyelidikan, sehingga dapat dipastikan secara hukum apakah ada atau tidak unsur pelanggaran tindak pidana kelalaian yang mengakibatkan meninggalnya dua warga itu. Apalagi ini sudah menjadi perhatian masyarakat luas di Mandailing Natal,” sebut Imran.

Di sisi lain, Ketua DPRD Madina periode 2009-2014 itu menghimbau agar masyarakat setempat tidak terprovokasi atas isu apa pun paska terjadinya peristiwa tersebut. “Kita harap warga dapat menahan diri, tidak terprovokasi oleh opini publik yang belum berdasarkan hukum,” ucapnya.

Sementara, Arsidin Batubara, anggota DPRD Madina yang juga dari fraksi Partai Golkar kepada Metro Tabagsel mengatakan, pihaknya menyayangkan kejadian yang menyebabkan dua warga meninggal dunia.

Arsidin menyebut, jika benar tidak ada tanda-tanda yang dipasang di kawasan kolam, apalagi kolam tersebut sudah ditinggalkan atau tida difungsikan, ini merupakan alasan yang logis orang menanggapi bahwa kejadian itu disebabkan kelalaian pihak perusahaan.

“Kejadian di kolam PT SMGP sangat disayangkan karena kita menilai jika benar tidak ada tanda-tanda yang dipasang sebagai bentuk peringatan dan bahkan kemudian tidak dipagar maka atas kejadian itu sangat beralasan jika banyak orang mengkategorikannya sebagai bentuk kelalaian perusahaan.

“Kita berharap kedepan perusahaan lebih ramah lagi terhadap kondisi-kondisi seperti ini, area berbahaya harus betul-betul ditingkatkan pengamanannya, dan disosialisasikan kepada masyarakat,” sebut Arsidin.

Ia menegaskan, kejadian tersebut harus diproses secara hukum. “Ya, setelah kejadian ini hukum harus bekerja, jika benar ada unsur kelalaian dari pihak perusahaan, maka hukum harus tegak tanpa pandang bulu,” tambahnya.

Kemudian, Rahmad Riski Daulay, anggota DPRD Madina dari Partai Demokrat kepada Metro Tabagsel menyebutkan, kejadian yang menyebabkan dua warga meninggal dunia merupakan sebuah kelalaian pihak perusahaan.

“Harusnya pihak perusahaan membuat pengamanan terhadap lokasi yang dianggap bisa membahayakan karyawan maupun masyarakat sekitar, disini terlihat bahwa perusahaan kurang perhatian terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, tentu kita berharap Polisi memproses dugaan kelalaian pihak perusahaan yang menyebabkan 2 korban.

Tidak sampai di situ saja, Riski Daulay menyebut pihaknya akan membawa permasalahan tersebut di fraksi Partai Demokrat.
“Dan kami akan coba diskusikan di Fraksi Demokrat, dan akan menyampaikan ke kawan-kawan komisi, supaya melakukan peninjauan ke lokasi bersama-sama dengan pemerintah daerah,” kata Riski. (wan)

  • Linkedin
Loading...