Ini Tradisi Kuliner saat Lebaran di Tapanuli Selatan

Bagikan:
MANGALOMANG- Mangalomang menjadi salah satu tradisi warga saat Hari Raya Idul Fitri.

MetroTabagsel.com – Selain kuliner daging, ada tradisi kuliner yang masih terus berlangsung hingga sekarang di wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) saat lebaran. Yaitu, Mangalomang (Lemang, red) dan membuat Alame (Dodol Tradisional, red).

Tradisi ini sudah lama turun-temurun dilaksanakan warga setiap menjelang lebaran. Biasanya, proses pembuatan lemang berlangsung pada saat Malam Takbiran. Hal itu dilakukan agar lemang bisa langsung disantap pada pagi harinya (usai sholat Id, red).

Berbeda dengan proses pembuatan Alame yang memakan waktu lebih dari 24 jam, sehingga proses pembuatannya dilakukan 1 atau 2 hari sebelum lebaran.

‎Puli Lubis, salah seorang warga yang biasa membuat lemang mengatakan, satu hari sebelum lebaran bahan-bahan untuk membuat lemang sudah disiapkan.

“Bambu, beras, dan kelapa yang sudah diparut, sama bahan lainnya disiapkan paginya,” ujarnya.

Proses pembuatannya, kata Puli, semua adonan yang menjadi bahan untuk membuat lemang dimasukkan ke dalam bambu yang telah disediakan. Kemudian, bahan tersebut disesuaikan dengan ukuran bambu. “Bahan itu tidak boleh penuh sampai ke atas, harus sesuai ukurannya,” jelasnya.

Setelah itu, lemang didekatkan ke api yang sudah disediakan. “Kita tunggu beberapa jam. Lemang yang dimasak itu juga harus diperiksa beberapa jam kemudian apakah sudah matang atau belum,” katanya.

Menurut Puli, tradisi membuat lemang sudah lama berlangsung dan tetap dilaksanakan oleh masyarakat. Sebab, lemang menjadi santapan menu favorit saat lebaran.

“Biasanya dibuat sendiri. Tapi ada juga orang yang beli kalau tidak sempat membuatnya. Lemang ini paling enak dimakan dengan gule rendang yang sudah dimasak,” ungkapnya.

Sedangkan proses pembuatan Alame, satu atau dua hari sebelum lebaran sudah dimasak. Sebab, memasak Alame memakan waktu yang lama untuk bisa disantap.

“Kalau Alame tahan lama untuk dikonsumsi. Namun, kita butuh waktu lama memasaknya. Biasanya Alame dihidangkan kepada  tamu-tamu atau keluarga yang mudik lebaran,” sebutnya. (bs/mtl)

Bagikan: