Teknologi Bukan Untuk Ditakuti

Bagikan:
Ilustrasi

SAAT ini teknologi bukan lagi suatu yang asing kedengarannya, bahkan keberadaannya diamini mayoritas kita semua. Pada dasarnya, fungsi teknologi sebagai media untuk mempermudah kehidupan manusia baik dalam pekerjaan maupun kegiatan sehari-hari.

OLEH MUHAMMAD IRSAN SIREGAR

Namun tidak menutup kemungkinan ada berbagai kepentingan oknum tertentu yang menggunakan teknologi untuk menjarah ke berbagai line kehidupan guna memuluskan jalan demi mencapai kehendak yng diinginkan.

Kehadiran teknologi diduga menjadi pemicu ketegangan global yang tidak hanya dari satu negara ke negara lain, melainkan seluruh negara. Dengan demikian, nampak bahwa teknologi bisa menjadi bagian dari faktor dekadensi moral generasi bangsa. Ia memberikan peluang bagi negara lain untuk menggoda syahwat peradaban melalui tayangan yang tidak seharusnya ditampilkan dan ditonton terlebih bagi anak-anak.

Tapi sebaliknya, teknologi bisa pula menjadi faktor pendukung majunya suatu bangsa dengan memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Salah satunya, sebagai media mempermudah berkarya yang kemudian bisa dipromosikan di dunia maya. Meninggalkan teknologi merupakan suatu kemustahilan ditengah zaman yang sudah tidak asing lagi tanpa teknologi. Menerimanya adalah suatu keharusan, yang kita lakukan hanya memfilternya untuk digunakan.

Jauh sebelum anak dititip ke sekolah, ada pendidikan yang lebih utama harus kita perhatikan, yakni pendidikan dalam keluarga. Anak mempunyai memory yang masih jauh dari romantika kehidupan, maka ia lebih aktif merekam segala tindak tanduk perjalanan keluarganya.

Bisa dibayangkan lima belas tahun yang akan datang jika orangtuanya sering bertengkar. Anak tidak akan menyalahkan kejadian yang sama saat ia dewasa karena ia mendapatkan pengalaman tersebut saat muda dari keluarganya.

Anak lebih awal sekolah di rumahnya, ia tahu berkomunikasi, sedikit cara membaca dan mengenal benda. Namun tanpa bimbingan dan arahan yang lebih spesifik untuk menyadarkannya, sehingga apa yang ia lihat cendrung dipraktekkan apa adanya tanpa pikir panjang.
Oleh karenanya, kurikulum keluarga secara umum tidak dibatasi jam dan hari apa anak harus belajar. Karena anak terus berinterakasinya belajar membaca kondisi yang aktual terjadi dalam keluarganya.

Jika demikian, maka peran serta keluarga sangatlah menentukan masa depannya untuk mencetak menjadi anak yang berkarakter, shaleh dan shalehah. Di ranah keluargalah masa depan bangsa bisa ditentukan pada umumnya melalui keberhasilan anak dalam keluarga.

Negara bisa hancur dengan dua faktor, begitu juga keluarga: Pertama, faktor internal, meliputi komitmen pemerintah untuk selalu bersikap adil, jujur dan tidak saling mendzalimi walaupun dipimpin beda partai namun tujuannya tetap satu. Jika sudah ada komitmen dari dalam jiwa pemerintah atau keluarga, faktor eksternal pun kita bisa kendalikan, masih ada kesempatan memfilterisasi tentang kehadiran teknologi, mana yang seharusnya diorientasikan atau kapan waktu mengoperasikannya.

Jika orangtua mempunyai cita-cita yang tinggi pada anaknya, tidaklah orangtuanya menelantarkan waktu atau lalai mengurus anaknya. Orangtua hendaknya memberi pendampingan saat anak beraktivitas di rumah serta membangun kepercayaan dirinya.

Anak butuh perhatian khusus walau sesibuk apapun orangtuanya, sebab dengan cara demikian akan timbul dengan sendirinya rasa simpati atau empati. Anak akan belajar menilai dari sekian persoalan yang ada, kepekaan yang seperti inilah harus ditumbuhkan dalam diri jiwa anak sehingga kelak masa dewasanya ia tidak mudah menyerah dalam hal menatap masa depan yang lebih menantang.

Lembaga pendidikan non-formal bukanlah seutuhnya cara keluarga menitipkan anaknya, sebab anak tidak akan selamanya tinggal di lembaga pendidikan tersebut. Di ranah inilah orangtua ada banyak salah paham dengan menganggapnya saat anak sudah dititipkan di sekolah maka menjadi tanggung jawab total adalah sekalah tersebut, sedang orangtuanya diam cukup kirim uang dari rumah.

Pada kenyataan yang demikian, pengawasan orangtua lepas kontrol, karena tidak sempat menanyakan kepada gurunya bagaimana perkembangan pendidikan anaknya.

Bayangkan kalau anak yang dititipkan bandel maka cara mendidiknya pun harus lebih ekstra bagi guru yang bersangkutan, karena ia lebih aktif bandelnya daripada sifat baik dalam dirinya. Tapi terkadang usaha guru untuk mendidik terkadang dianggap sebagai kekerasan terhadap anak walau hanya sebatas dijewer, diberdirikan untuk membuat jera dari perilaku buruknya semata.

Adakalanya juga terkadang orangtua menitipkan anaknya ke sekolah saat anaknya sudah bandelnya luar biasa. Kalau pintar yang ditanya lebih dahulu anaknya siapa, tetapi kalau nakal, anaknya bermasalah, lalu yang ditanya gurunya atau sekolahnya di mana.

Seyogianya, tanggung jawab guru menjadi orangtua murid saat ia berada di dalam lingkungan lembaga pendidikan. Tetapi setelah murid pulang, tanggung jawab pendidikan anak dikembalikan kepada orangtua aslinya.

Oleh karena itu perlunya simbiosis mutualisme guru dan orang tua murid, sehingga berdampak pada usah memaksimalkan pendidikan anak. Kalau sudah demikian maka niat baik leluhur tentang masa depan bangsa kita yang ada di tangan generasi muda akan tercapai.

Sehingga kehadiran teknologi bukanlah ajang perdebatan melainkan ajang fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam hal kebaikan), karena kata Sayyidina Ali, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”.

Orangtua yang terlalu memanjakan anaknya dengan teknologi hingga lupa waktu belajar, karena sudah jelas salah cara mendidiknya. Dan orangtuanya tidak lebih dari seorang pembantu, bukan lagi guru yang bisa menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah. (*)

Penulis adalah tenaga pendidik Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid Tapanuli Selatan.

Bagikan: