Guru Jangan Sampai Gaptek

Bagikan:
Ilustrasi

DEMI untuk mengimbangi percepatan tekhnologi kekinian, profesi guru diharapkan tidak lagi gagap teknologi (GAPTEK)”. Penguasaan teknologi bagi guru adalah suatu keharusan yang tak bisa ditinggalkan.

 Oleh; TANTOMI SIMAMORA, S.SOS.I

Sebab guru adalah pelaksana utama pendidikan yang saat ini sedang menghadapi generasi millenial, generasi zaman now yang sangat akrab dengan gadget.

Guru juga dituntut memahami segala bentuk perkembangan anak didiknya, agar bisa menjadi pembendung derasnya arus budaya asing yang semakin tak terkendalikan. Penguasaan teknologi bagi guru juga akan mempercepat daya literasinya.

Paling tidak guru dapat memahami literasi bahasa, numerik, digital dan budaya. Namun sampai sekarang masih banyak ditemukan guru yang gagap dalam teknologi (gaptek) seperti yang dilansir dari Kompas.com (12 Desember 2017), saat ini, baru 25 persen yang menguasai teknologi.

Sebagian guru di pedesaan masih terkendala dengan akses informasi untuk menguasai teknologi. Keterbatasan akses teknologi di pedesaan juga menjadi hambatan. Kata Direktur Pembina Guru Pendidikan Dasar Anas M Adam saat membuka seminar nasional guru pendidikan dasar di hotel ambara (23/11/2017).

Guru tak perlu menguasai teknologi yang terlalu canggih, namun yang paling penting adalah diberikan pemahaman, seiring dengan kemajuan teknologi, generasi bangsa ini perlu membudayakan literasi dan minat baca. Sebab sangat merugi, jika kemajuan teknologi ini justru digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfa’at, bahkan akan menjadi salah satu penyebab bobroknya generasi yang berujung kepada kemunduran-kemunduran dalam berbagai hal, terutama dalam dunia pendidikan.

Maka dalam hal ini profesi guru zaman now diharapkan benar-benar memanfaatkan teknologi dengan baik. Para guru jangan sampai  tak paham dengan sistem komputer berinternet dan teknologi informasi yang dapat merubah wajah dunia dan cara mengajar di ke depannya.

Dunia pendidikan merupakan sarana , sekaligus wadah yang paling efektif dalam menyebarkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pembelajaran dengan sistem konvensional sudah tertinggal dan tidak zamannya lagi yang digantikan dengan pembelajaran digital.

Di era digital proses pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga menggunakan media digital, online. Guru tidak bisa tinggal diam dan menutup mata terhadap kemajuan teknologi ini. Guru harus dapat menyikapi perkembangan teknologi yang maju dan semakin melesat.

Kenyataan yang ada saat ini anak didik lebih akrab dengan dunia teknologi. Hal ini akan menjadi bumerang bagi guru. Banyak anak didik kita saat ini lebih cerdas dalam dunia teknologi daripada gurunya. Sehingga timbul kesenjangan, sehingga hal ini bisa berakibat fatal dalam dunia pendidikan.

Kesenjangan guru yang lahir di era abad dua puluh dan anak didik yang lahir dalam abad dua puluh satu ini, disebabkan perbedaan dalam mendapat pengetahuan dalam teknologi. Munculnya media komunikasi yang tidak hanya berbasis pesan (audio) menjadi candu bagi anak-anak muda sekarang.

Terlebih lagi sebuah aplikasi komunikasi yang dilengkapi dengan media audio visual. Tak sedikit dari anak didik bangsa ini memperlihatkan gambar yang belum pantas dilihat, tapi guru tidak mengetahui apa yang dilakukan anak didik, karena tidak memiliki aplikasi serupa.

Ini adalah sebuah masalah yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Guru bukan lagi dipandang sebagai sosok makhluk serba bisa sekaligus memiliki wawasan yang tinggi di hadapan murid-muridnya atau pun masyarakat. Masalah yang muncul yang tidak bisa dipandang sebelah mata dan dianggap remeh.

Tantangan terbesar bagi guru, dengan canggihnya teknologi akan menyebabkan komunikasi antar peserta didik dapat terjalin dengan rahasia. Pembicaraan dunia maya antar anak didik tanpa ada campur orang tua dan guru. hal ini sangat berbahaya mereka bertindak sesuai dengan kehendaknya.

Anak menganggap Kemajuan teknologi yang melalui internet adalah pengetahuan yang lengkap. Berbeda dengan pendidikan zaman yang lalu guru serba bisa dan maha tahu. Guru yang tidak mengenal teknologi, akan dianggap rendah oleh anak didiknya. Mereka akan menganggap seolah-olah guru adalah orang bodoh. Fenomena ini terjadi di sekeliling kita. Guru jangan mau tertinggal dalam informasi dan teknologi, jadi guru harus rajin mengakses informasi dan teknologi. Kemudian dalam prosese belajar mengajar, lazimnya guru harus belajar menggunakan perangkat teknologi informasi di hadapan para muridnya.

Guru juga harus dapat memahami kebutuhan anak didik di tengah makin lengkap sarana dan prasarana yang tersedia. Guru juga harus memiliki akun di media sosial seperti halnya anak didik. Guru bisa berteman dengan mereka sebagai wadah untuk belajar, media komunikasi, dan penyebaran informasi.

Keberadaan guru bisa sebagai pengawas aktivitas anak didik ketika berselancar di dunia maya. Walaupun ini mungkin sulit dilakukan, karena anak akan menganggap sebagai penghalang keberadaan mereka yang mempunyai dunianya sendiri. Teknoloogi sangat berpotensi untuk membawa negeri ini ke arah kemajuan.

Terlebih dalam menyuarak aspirasi dalam dunia pendidikan, teknologi  merupakan salah satu instrumen yang paling tepat dalam membangun tatanan pendidikan yang lebih maju dan bernilai tinggi. Sehingga  Tidak jarang kita lihat di era informasi ini, kekuatan media sesungguhnya mampu mengubah paradigma pendidikan  terhadap suatu konsep. Bahkan, mampu meningkatkan nilai-nilai pendidikan di hadapan masyarakat dan Pemerintah yang harus merujuk kepada tujuan pendidikan yang hakiki.

Cepatnya kemajuan teknologi saat ini, menunjukkan perubahan yang signifikan. Manusia sebagai pengkonsumsi informasi, menginginkan informasi yang menarik dan cepat.

Tentunya ini tugas berat bagi guru sebagai pelaku utama pendidikan dalam membentuk karakter anak, sehingga terjadi keseimbangan antara kemajuan teknologi dan karakter anak didik bangsa ini. (*)

Penulis adalah Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid (PDM) Tapanuli Selatan.

Bagikan: