Menu

Menilik Dokter Cantik Ambulans Motor: Menembus Gelapnya Malam hingga Jadi Tim Ruqiah Dadakan

  • Linkedin
Dokter tim Ambulance Hebat Kota Semarang, Nurul Afifah (belakang) dan rekan perawatnya siap merespons panggilan pasien, Senin (1/10).

SOSOK perempuan memang tak lagi bisa dipandang sebelah mata, tak sedikit dari mereka yang menjadi srikandi modern dengan mengambil profesi menantang. Seperti Nurul Afifah, yang memilih untuk mengabdi kepada masyarakat sebagai dokter ambulance motor. Dan berikut kisahnya saat berbincang dengan JawaPos.com.

Tunggul Kumoro, Semarang

Nurul adalah salah satu dari sepuluh dokter yang tergabung dalam tim Ambulance Hebat milik atau gagasan Pemkot Semarang. Alumnus fakultas kedokteran umum Universitas Sultan Agung itu sudah dua tahun berada di dalamnya.

“Ambulance Hebat itu kan sudah ada sejak dua tahun lalu, saya gabung sejak itu dan kalau ambulance motor itu baru Juli 2018 kemarin sebagai unit perbantuannya menjangkau lokasi-lokasi susah. Saya juga sering meluncur dengan motor,” ujarnya saat dijumpai di Markas Ambulance Hebat di komplek GOR Tri Lomba Juang, Semarang, Senin (1/10).

Dari sepuluh dokter yang ada, Nurul mengatakan sebagian diantaranya adalah perempuan. Mereka dibantu 25 petugas lain yang berprofesi sebagai perawat. “Kalau perawatnya cowok, saya suruh nyetir motornya. Tapi kalau perawatnya cewek, saya sering yang di depan,” sambungnya.

Tim Ambulance Hebat, kata Nurul, memang dibuat untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bisa menjangkau masyarakat di seluruh sudut Kota Lunpia. Dengan menghubungi nomor 1500132 atau 112, regu ini siap meluncur 24 jam.

Sementara, lanjutnya, ambulance tipe motor baru diterjunkan saat petugas call center menimbang lokasi pasien yang melakukan panggilan. Jika mudah dijangkau, hanya akan mengerahkan ambulance tipe mobil.

Ambulance motor itu sendiri disediakan sebanyak lima unit. Dengan spesifikasi kendaraan matic standar yang dipasangi tiga buah box berisi peralatan dan perlengkapan medis.

“Yang kami tangani itu kan dari laka di jalan, kehamilan, sesak napas, jantung, dan lain sebagainya. Kita ada pos juga di Pandanaran, Halmahera, Bangetayu, Srondol, dan Karangmalang. Nah dari situ dilihat dulu apakah nanti masuk ke gang-gang sempit atau macet tidak jalannya. Kalau iya, kita pakai motor,” kata dara kelahiran September 1990 itu.

Dalam sehari, jumlah panggilan bisa bervariasi, antara empat sampai lima, menurut Nurul. Lokasinya pun bermacam-macam. Paling jauh, yakni di Ngaliyan atau pinggiran Kota Semarang berbatasan dengan Kabupaten Kendal. “Yang telepon jam satu atau dua dini hari itu juga sering. Ya kita harus tetap melayani,” tegas perempuan berparas menawan itu.

Masa awal regu ambulance motor diluncurkan Pemkot Semarang, Juli 2018 lalu, kewajiban atau tugas masih dirasa cukup berat. Jalanan Kota Semarang siang atau sore hari pasti penuh kendaraan. Sirine dan lampu rotator dinyalakan pun tidak cukup membantu dan malah dikira rombongan pawai motor.

Belum lagi panggilan pada jam tak biasa. Dilihat dari manapun, perempuan berkendara motor malam-malam memang berisiko.

“Perasaan terancam pasti ada. Tapi alhamdulillah, niatnya menyembuhkan, ada relawan mengawal kami sampai lokasi. Dan kian hari, kami makin terbantu dengan keberadaan masyarakat yang sudah mengenal kami. Jalanan macet pun dibukakan,” katanya.

Dari ratusan panggilan yang sudah direspon tim ambulance motor, beberapa diantaranya, menurut Nurul, bisa dikata tak sesuai apa yang dilaporkan. Bahkan, sempat ia dan rekan perawatnya saat mendatangi pasien malah menjadi tim ruqiah dadakan.

“Ngomongnya hipertensi tapi ternyata cuma pusing. Lalu ada panggilan dari salah satu universitas swasta saat acara penerimaan mahasiswa baru, pasien sebelumnya jatuh dan diperiksa kondisi fisik normal. Pas bangun, ternyata kesurupan. Ya kita bantu-bantu doa deh. Alhamdulillah pulih,” imbuhnya.

Soal itu semua, Nurul dan seluruh jajaran Ambulance Hebat, mengaku tak mau mengeluh. Sudah menjadi kewajiban baginya memprioritaskan kesehatan masyarakat meski dengan rintangan apapun, seperti melaju dari Kaliwungu, Kendal, tiap harinya.

“Lebih banyak tantangannya yang jelas daripada buka klinik. Bisa ngenal pasien, mengenal lika-liku kehidupan. Seperti misal kita ada panggilan ada gelandangan sakit butuh bantuan, ternyata beliau punya keluarga. Itu kan pasti kami-kami di sini memperoleh pelajaran berharga dari itu,” tandasnya. (gul/JPC)

  • Linkedin
Loading...