Aksi Sosial Berikan Nasi Bungkus Gratis: Kabinet Sego Bungkus, Komunitas Emak-emak Milenial

Bagikan:
Para penggerak Kabinet Sego Bungkus, yang berawal dari para wali siswa yang sama-sama menunggui anak sekolah. (Tika Hapsari)

Jika berbicara soal emak-emak, yang muncul di benak adalah kebiasaan pasang lampu sein kiri namun belok ke kanan. Hal itu kerap dilakukan kaum hawa di berbagai daerah. Namun, tak semua kebiasaan yang dilakukan mereka terkesan ‘slebor’. Mereka juga tak luput dari aksi-kasi yang patut diacungi jempol.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Etalase berukuran sekitar 50 cm x 100 cm yang berdiri di pinggir Jalan Raya Thamrin, Lawang, Kabupaten Malang setiap hari selalu menyita perhatian. Etalase itu berisikan beberapa nasi bungkus dan minuman.

Pintu etalasenya tidak tertutup, sehingga siapa saja bisa dengan mudah mengambil isinya. Ya, etalase itu memang sengaja diletakkan. Namun, makanan dan minuman yang ada tidak dijual.

Isi dari etalasi itu digratiskan untuk semua orang. Seperti tulisan yang terdapat di sana ‘tempat nasi gratis’ yang ditempel di depan etalase. Siapa saja boleh mengambil nasi dan minuman tanpa dipungut biaya.

Terlihat seorang laki-laki dengan tampang lelah dan pakaian lusuh mengambil sebungkus nasi dan sebotol air mineral. Sebelum pergi, laki-laki tersebut mengucapkan terimakasih kepada si empunya toko, Nonie Basalamah (39).

Nonie adalah orang yang meletakkan etelasi kaca berisikan makanan dan minuman gratis itu. Itu ia gagas bersama beberapa emak-emak lainnya yang merupakan rekannya.

Totalnya ada 15 orang emak-emak penyokong makanan gratis.’Kabinet Sego Bungkus’ itulah sebutan kelompok mereka. Yulin Kristanti (32) ditunjuk sebagai Ketua Kabinet Sego Bungkus. Aksi ini berawal sekitar sebulan yang lalu, dimana mereka konsisten membagikan nasi bungkus gratis.

“Awalnya, membagikan nasi bungkus setiap Jumat kepada pengemis. Bukan atas nama Kabinet Sego Bungkus melainkan dilakukan orang per orang,” ujar Nonie kepada JawaPos.com, Selasa (6/11).

Namun mereka merasa, gerakan membagikan nasi perorang itu dirasa kurang efektif. Karena selalu berbenturan dengan kesibukan mereka. Akhirnya mereka memutar otak agar tetap bisa berbagi dan menjalankan kesibukan dengan bersama-sama.

“Ya akhirnya dengan konsep seperti ini kami menjalankan niat kami. Ide ini bukan murni dari kami, tapi mengadaptasi dari gerakan yang sama di Madiun,” kata Nonie.

Ternyata, cara yang diadaptasi tepat. Mereka bisa menjalankan kesibukan mereka, namun tetap bisa berbagi kepada yang memerlukan.”Ramainya (orang ambil nasi gratis) ketika pagi dan siang saat jam makan siang gitu. Pengambilnya juga bebas, siapa saja yang membutuhkan,” papar Nonie.

Yulin Kristanti menambahkan, konsep memberikan nasi bungkus secara gratis ini juga sudah dilakukan di beberapa negara. Misalnya saja Jerman dan Dubai.

Berawal dari obrolan santai, ide para emak-emak ini mendirikan Kabinet Sego Bungkus akhirnya terealisasi. ke 15 orang emak-emak ini memang setiap hari bertemu, karena buah hati mereka sekolah di tempat yang sama. Maklum, para emak ini adalah wali siswa TK Al Husna, Lawang.

“Kemudian kami pikir, daripada berkumpul hanya ngobrol enggak penting tidak ada manfaat, kenapa nggak membuat kegiatan yang lebih bagus lagi,” kata dia.

Ibu dua anak itu bercerita, begitu ide ini dilempar di grup internal mereka, ternyata respon yang didapatkan sangat positif. Para emak langsung merespon dan mengumpulkan dana.

Hari pertama langsung terkumpul dana sebesar Rp1,9 juta. Dana ini kemudian dibelikan etalase dan 20 bungkus nasi. Yulin ingat, menu awal aksi mereka ini adalah nasi krawu.

“Awet sampai siang dan nggak mudah basi,” kata perempuan cantik itu sambil tertawa.

Ternyata aksi perdana mereka tiga minggu lalu itu mendapatkan respon positif dari masyarakat. Nasi bungkus mereka ludes.

Awalnya mereka memberlakukan sistem piket untuk mengisi etalase dengan nasi bungkus. Setiap pagi, yang piket harus mengecek ketersediaan nasi bungkus. Atau mengisi etalase yang kosong.

Ketika siang nasi sudah habis, si piket juga harus mengisi kembali etalase kosong mereka. Namun, lambat laun yang melakukan pengisian etalase tidak hanya dilakukan oleh anggota kabinet saja. Melainkan sudah dilakukan oleh orang lain.

“Ternyata respon masyarakat bagus. Banyak donatur membantu kami, Alhamdulillah. Tiba-tiba sudah ada yang mengisi nasi ketika dicek etalasenya sudah penuh. Ada yang memberi bantuan air mineral. Sampai sekarang kami nggak pernah beli air. Responnya bagus,” kata Yulin dengan penuh syukur.

Soal sasaran pemberian nasi bungkus, kata Nonie, mereka tidak mengkhususkan untuk kalangan tertentu. Semua yang membutuhkan nasi gratis boleh saja mengambil. Tidak dibatasi.

Misalnya saja tukang parkir, bapak-bapak yang membantu menyebrangkan jalan, pengemis, abang ojek online, hingga penjaja makanan keliling, pengamen dan anak jalanan.

“Karena kami kan enggak tahu apa indikator fakir miskin. Bisa jadi menurut kami dia miskin tapi pada nyatanya nggak. Lebih baik kami bebaskan saja, yang butuh silahkan ambil,” tandas dia. (tik/JPC)

Bagikan: