Menu

Sepenggal Cerita Suku Badui Dalam

  • Linkedin
Kuswandi
Anak Suku Badui luar sedang bermain di pelataran rumahnya, Sabtu (28/4) sore.

Nekat Poligami Diasingkan, Menikah dengan Orang Luar Badui Dikeluarkan

JIKA ada masyarakat suku di kepulauan nusantara yang masih memegang teguh adat istiadatnya, salah satunya adalah Suku Badui Dalam. Ratusan tahun secara turun temurun, mayoritas warga Suku Badui Dalam masih teguh memegang prinsip dan aturan adat istiadatnya.

Oleh: KUSWANDI

Jika tak kuat, maka harus keluar dari kampung halamannya, bermigrasi ke kampung di wilayah Suku Badui Luar. Cahaya bulan purnama terang menyinari Kampung Cibeo, salah satu dari tiga perkampungan di wilayah Suku Badui Dalam, Sabtu (28/4) malam. Semburat cahayanya menembus lubang bilik bambu dan atap rumah salah satu warga yang terbuat dari dedaunan.

Meski kalah terang jika dibandingkan dengan cahaya lampu listrik, namun cukup membuat rumah tersebut tak gelap gulita, dan seluruh penghuninya bisa tidur nyenyak, meski beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan.

Tak ada listrik, internet atau hingar bingar suara radio dan televisi. Hanya suara jangkrik dan binatang malam lain yang menjadi hiburan ratusan penduduk warga yang masuk dalam wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Saat mandi, ratusan penduduk Suku Badui tak boleh menggunakan sabun, keramas dengan sampo dan sikat gigi dengan menggunakan odol. Hal ini juga berlaku untuk seluruh tamu yang datang. Mereka wajib mengikuti aturan adat yang sudah dilakukan secara turun menurun secara bertahun-tahun. Jika melanggar, maka siap-siap akan ditegur dan menerima sanksinya.

“Orang Badui haknya ngurus adat, pertanian, bukan sekolah,” kata Jaro Sami, salah satu tokoh masyarakat Suku Badui Dalam di wilayah Kampung Cibeo, saat berbincang dengan JawaPos.com, Minggu (29/3) pagi kemarin.

Atas adanya larangan tersebut, praktis, semua anak Suku Badui Dalam tak ada yang mengikuti sekolah formal pada umumnya anak-anak lain di Indonesia. Mereka hanya mendapat pelajaran sekolah seperti menulis dan membaca dari tamu-tamu yang datang saban pekan, saat berkunjung ke kampung halamannya.

“Kenapa larang sekolah karena takut kalau sudah pintar keluar dari Badui Dalam,” jelasnya sembari tangannya membelah bambu untuk dibuat tutus (tali pengikat atap rumah).

Selain melarang bersekolah, menurut Jaro Sami, anak Suku Badui Dalam juga dilarang memiliki dan menaiki berbagai kendaraan. “Boleh lihat mobil tapi nggak boleh naik mobil,” jelasnya.

Dengan adanya larangan ini, praktis ratusan warga Suku Badui Dalam, kemana-mana harus jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Ini bukan karena takut diasingkan di wilayah Badui Luar jika terbukti melakukan pelanggaran. Namun, ini murni karena mayoritas warga Suku Badui Dalam masih memegang erat adat istiadatnya.

Hal ini dibenarkan oleh Narip (23), salah satu warga Suku Badui Dalam yang sudah beberapa kali pergi ke Jakarta untuk silaturahmi dan berdagang.

“Saya baru saja pulang dari Jakarta dengan jalan kaki. Di sana sekitar sepuluh harian,” kata Narip kepada JawaPos.com.
Meski telah melakukan perjalanan jauh hingga ratusan kilometer, tak ada guratan rasa lelah terpancar dari pria yang akrab disapa Idong ini. Dia begitu semangat menyambut sejumlah tamu yang datang jauh dari berbagai penjuru Jakarta.
Sebagai tanda persahabatan, dia pun menuangkan segelas teh untuk dibagikan kepada para tamunya. Tak terkecuali dengan JawaPos.com yang menginap di kediamannya. “Silahkan diminum,” ucap Idong ramah kepada para tamunya.

Selain melarang anak untuk bersekolah dan naik kendaraan, warga Suku Badui Dalam juga dilarang untuk berpoligami.

“Di sini nggak boleh cerai dan beristri dua. Kalau langgar hukum adat diasingkan,” tegas Jaro Sami. Namun, kendati demikian, jika salah satu pasangannya meninggal, seorang janda atau duda boleh menikah lagi dengan tenggat waktu yang cukup lama.

“Kalau meninggal boleh. Setahun baru boleh menikah lagi,” jelas pria kelahiran Cibeo, 58 tahun silam tersebut.

Dalam melakukan pernikahan, rata-rata anak Suku Badui Dalam menikah pada usia 18 tahun ke atas. Ini dilakukan, karena jika usia kurang dari 18 tahun, dianggap belum dewasa.

“Sistem pernikahannya dijodohkan. Usianya 18 tahun ke atas. Di bawah usia 18 tahun dianggap kurang dewasa. Soalnya kalau cocok tanam kurang mandiri,” paparnya.

Sebelum melakukan pernikahan, calon pengantin pria akan menjalani lamaran selama tiga kali. ”Calon pengantin perempuan tak boleh menolak jika sudah dilamar,” kata Idong. Hal senada juga dikatakan Samani,21.

”Kalau mau menolak, bisanya dari awal ketika orang yang menjodohkan menawari sang pengantin perempuan untuk menikah,” imbuh pria yang akrab disapa Yayat ini.

Selanjutnya, jika lamaran sudah diterima, maka calon pengantin pria akan menjalani beberapa prasyarat yang wajib dipatuhi.

Pertama calon pengantin pria akan menjalani tahapan lamaran pertama. Dalam hal ini, calon mempelai pria akan diminta ke ladang calon mertua selama satu hari dengan membawa daun sirih. Selanjutnya, untuk lamaran kedua, sang mempelai pria diminta untuk datang ke ladang kembali selama tiga hari tiga malam.

”Lamaran ketiganya itulah pernikahannya, pengantin pria disandingkan, kemudian memberi seserahan kepada pengantin perempuan,” kata Idong.

Hingga saat ini, ratusan warga Kampung Cibeo, masih memegang prinsip hukum adat yang sudah ditetapkan. Namun, tak jarang ada yang tak kuat menahan hasratnya untuk menikah dengan orang Suku Badui Luar atau orang luar yang bukan berasal dari suku mereka.

Jika hal ini terjadi, maka hukum adat pun diberlakukan. Pihak yang nekat menikah dengan orang luar dari kampung halamannya terpaksa dikeluarkan.

“Kalau menikah dengan orang luar harus tinggal di luar. Nggak boleh menetap di sini,” pungkas Jaro Sami. (wnd/JPC)

  • Linkedin
Loading...