Menu

Fotografer dari 9 Negara Eksplore Danau Toba

  • Linkedin
Salahsatu model yang mengenakan gaun dari ulos yang telah dimodifikasi berfoto bersama di antara becak BSA dengan fotografer dari luar negeri.

MetroTabagsel.com – Fotografer dari 9 negara; Singapura, Malaysia, Vietnam, Philipina, Korea Selatan, Tiongkok, Srilangka, Taiwan dan Australia, mengunjungi Kota Pematangsiantar, Kamis (23/8) pagi. Apa saja yang mereka lakukan?

Pagi itu, sekira pukul 08.10, lima motor tua Birmingham Small Arms (BSA) dan delapan unit becak BSA membelah jalanan dipayungi langit mendung. Start dari sekretariat BSA Owner Motorcycles Siantar (BOMS) di Jalan Kartini, rombongan konvoi mini menuju Lapangan Parkir Pariwisata, Jalan Merdeka.

Begitu tiba, rombongan langsung disambut Erick Profil, panitia sekaligus tuan rumah Crossing Bridges (CB) 15. Di sana, sebanyak 150 fotografer sudah menanti dan siap mengabadikan setiap momen dengan kamera masing-masing.

Seluruh fotografer lintas usia yang kompak menggunakan t-shirt berwarna putih itu, langsung gerak cepat mengangkat kamera begitu bikers BSA dan abang becak memarkirkan kendaraanya.

“Selamat datang kepada Presiden BOMS, bikers dan abang-abang becak,” sambut panitia yang dijawab dengan senyuman oleh seluruh anggota BOMS dan abang becak.

Selanjutnya panitia mengajak perwakilan masing-masing negara berkenalan dengan Presiden BOMS H K Erizal Ginting dan para bikers; Fihzan Ginting, Boy Iskandar Warongan, Robert Situmorang, Riski Dermawan Lumbantobing, dan lady biker Silvi.

“Hi, nice to meet you. Nice to meet you,” begitu ucap fotografer-fotografer itu saat bersalaman.

Usai berkenalan, panitia Crossing Bridges (CB) 15 menyerahkan Sertifikat Partisipasi dan T-shirt berwarna hitam kepada Presiden BOMS H K Erizal Ginting. Dan, BOMS membalas pemberian itu dengan menyerahkan pin kepada perwakilan negara.

“Lambang pin ini sama seperti tugu becak yang menjadi ikon Kota Pematangsiantar,” sebut H K Erizal Ginting, sambil menunjuk Tugu Becak BSA dan dijawab anggukan oleh para fotografer itu.

Selesai bertukar cenderamata, ratusan pasang mata beralih melihat sejumlah model yang baru saja datang dan tampak cantik dengan balutan gaun dari ulos yang telah dimodifikasi.

Mereka, para fotografer itu, langsung membidik kamera ke arah model-model yang berpose di antara becak-becak BSA dan motor tua BSA. Sesekali terdengar celetukan good, great, amazing dari bibir fotografer.

“Dari awal, mereka (para fotografer luar negeri) memang sudah antusias dengan tradisi dan kebudayaan di Sumatera Utara. Mereka kagum dengan kain tenun tradisional khas Batak, Ulos. Dan, untuk Kota Pematangsiantar, kita sengaja menyuguhkan becak Siantar yang memang sudah menjadi ikon kota ini dan mengkolaborasikannya dengan model-model berbusana ulos,” jelas Erick Profil.

Puas hunting foto di lokasi, sebagian fotografer diajak berkeliling kota naik becak dan BSA. Mereka begitu kegirangan. Sepanjang perjalanan yang mengambil rute Merdeka dan Sutomo, para fotografer itu menebar senyum dan melambaikan tangan kepada warga yang melihat dari pinggir jalan atau di dalam toko. Ada pula yang mengabadikan dengan kameranya.

“Its ok?” tanya seorang fotografer dari Singapura kepada salahsatu biker yang menunggangi BSA berwarna merah.

Fotografer perempuan itu ingin memastikan apakah motor tua BSA aman bila dibawa berboncengan. Begitu dijawab dengan anggukan kepala. Ia langsung berucap, good. Dan, sepanjang perjalanan dia terlihat begitu menikmati duduk di atas BSA.

Sekitar sepuluh menit konvoi, rombongan kembali ke Lapangan Parkir Pariwisata. Seluruh fotografer menunjukkan rona wajah gembira begitu turun dari becak dan BSA. Beberapa fotografer mengaku bahwa konvoi barusan pengalaman pertama yang tak akan terlupakan. Dan, kunjungan fotografer dari sembilan negara ini diakhiri dengan sesi foto bersama.

Mereka memasang pose masing-masing sambil meneriakkan kata HORASSS….

Menurut Erick Profil, kegiatan ini merupakan sebuah kehormatan besar, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah Crossing Bridges (CB) 15 setelah ditinggal oleh salah satu inisiatornya, almarhum Kristupa Saragih.

“Dan untuk mengenang almarhum, perhelatan yang diikuti oleh 150 fotografer dari 9 negara ini diadakan di Sumatera Utara, khususnya di seputaran Danau Toba, yang merupakan kampungnya almarhum,” sebutnya.

Tuan rumah untuk kegiatan ini setiap tahun digilir dan diputuskan bersama pimpinan rombongan untuk menentukan tuan rumah di tahun depan. Dan, Opening ceremony (upacara pembukaan) sendiri dilakukan di Hotel Grandhika, Medan pada tanggal 18 Agustus malam.

Kegiatan Crossing Bridges dimulai sejak tahun 2004 pertama kalinya di kota Jogjakarta yang diinisiasi dan di prakarsai oleh Eddie Ng dari Clubsnap Singapura, Valens Riyadi dan almarhum Kristupa Saragih. Tujuannya agar kegiatan ini dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan jalinan persahabatan fotografer di kawasan ASEAN dan Asia.

Persahabatan yang semula hanya terjalin beberapa negara seperti Singapura (Clubsnap), Malaysia (Photo Malaysia), Vietnam (Vnphoto.net), sekarang sudah menambah banyak negera peserta , seperti Philipina (FPPF), Korea (PPK), Tiongkok (Zhuji Folklore Photography Association), Srilangka (viewfinders) dan Taiwan (LDS Club). Dan tahun ini ada tambahan perwakilan dari Australia (Australian Photographic Society).

Kegiatan inti berlangsung dari tanggal 18 – 24 Agustus 2018 mengitari Danau Toba melalui rute Brastagi, Tongging, Silalahi, Tele, Samosir dan pulang melalui Kota Pematang Siantar. Salah satu kegiatan yang sangat baik untuk mempromosikan Sumatera Utara yang akan dilakukan oleh fotografer 9 negara.

Semua biaya berasal dari masing-masing peserta dan tentunya mereka pulang akan membagi-bagikan hasil foto mereka di media sosial, potensi wisata di Sumatera Utara akan segera beredar di negara mereka masing-masing. Sebuah kegiatan yang banyak memberikan kontribusi kepada pariwisata Sumatera Utara tentunya. (ann/int)

  • Linkedin
Loading...