MISTERI Kematian Karyawati Bank Syariah Mandiri, Santi Devi Malau

Share this:
Kapolres Tapteng AKBP Sukamat dan jajaran memaparkan tersangka kasus pembunuhan karyawati BSM dan barang bukti di Mapolres Tapteng, Rabu (19/6).

MISTERI kematian karyawati Bank Syariah Mandiri (BSM) Santi Devi Malau (25) akhirnya terungkap setelah polisi menangkap pasangan suami istri berinisial DP (20) dan NYN (18) sebagai tersangka, Selasa (18/6), sekira pukul 17.30 WIB.

Menurut pengakuan sementara, pembunuhan dilakukan hanya karena korban tidak meminjamkan uang kepada DP.
Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Sukamat SH SIK dalam konfrensi pers yang digelar di Mapolres Tapteng, Rabu (19/6) menyebutkan, pelaku pembunuh Santi dicokok dari rumah persembunyiannya di Jalan Marelan IV, Gang Wakaf, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan.

“Kedua pelaku warga Medan, selama ini mencari nafkah di Pandan. Tiba tadi pagi sekira pukul 08.00 WIB,” kata Sukamat.
Diterangkan, pasca peristiwa pembunuhan tersebut, kedua pelaku langsung melarikan diri ke Medan. Tidak mau kecolongan, pada Senin (17/6), petugas kepolisian dari Polres Tapteng dan Polsek Pandan melakukan pengejaran. Setibanya di Medan, tim berkoordinasi dengan pihak Ditkrimum Poldasu. Tim juga berhasil mendapat informasi bahwa pelaku bersembunyi di rumah keluarganya di Medan Deli.

“Petugas langsung mengecek kebenaran informasi tersebut dan berhasil menangkap kedua pelaku di sebuah rumah di Jalan Marelan IV Kecamatan Medan Deli. Polisi juga terpaksa melakukan tindakan terukur kepada pelaku laki-laki dengan menghadiahinya timah panas, karena berusaha melarikan diri saat ditangkap,” kata Sukamat.
Dipaparkan, terjadinya peristiwa pembunuhan berawal saat DP berniat hendak meminjam uang sebesar Rp200 ribu kepada korban. Karena tidak memiliki uang, korban tidak memenuhi permintaan tersangka. Kepada tersangka korban mengaku hanya memiliki uang Rp20 ribu.

Mendengar pengakuan korban, pelaku kesal dan terus memaksa korban agar memberikan uang yang diminta. Pelaku tidak percaya korban tidak punya uang, apalagi korban bekerja sebagai karyawati di sebuah bank.

Pelaku lalu melakukan pemaksaan kepada korban dengan menguasai kamar sembari menyekap korban. Karena merasa terancam, korban berteriak. Saat itulah pelaku menghabisi nyawa korban dengan cara mencekiknya, sembari menyeretnya ke kamar mandi. Kepala korban juga dibenturkan ke dinding dan kloset.
Setelah tidak berdaya, kepala korban ditutup dengan kain yang biasa digunakan untuk sholat.
“Karena teriak, pelaku mencekik leher korban. Setelah korban pingsan, pelaku menyeret korban ke kamar mandi dan membenturkan kepala korban ke kloset,” timpal Sukamat.

Dalam kasus pembunuhan ini, sambung Sukamat, kedua pelaku dijerat pasal 365 ayat 4 dengan ancaman 20 tahun penjara. Namun hingga saat ini, pihak kepolisian masih menetapkan DP sebagai pelaku utama.
Sesaat sebelum tewas, korban sempat berkumpul dengan temannya dan punag ke kosan untuk melakukan sholat serta mencuci baju.

“Diancam hukuman seumur hidup. Kita masih melakukan pendalaman bagaimana keterlibatan istrinya. Karena dalam kasus ini istri pelaku mengetahui pembunuhan ini. Bila terbukti terlibat, istri pelaku bisa dijerat hukuman 15 tahun penjara,” jelas Sukamat.

Sukamat mengungkapkan, sebelum peristiwa pembunuhan ini terjadi, pelaku juga pernah masuk ke kamar korban dengan mencuri jam tangan milik korban. Menurut keterangan saksi, pelaku sedang dililit utang dan keduanya ingin kembali ke Medan tapi tidak memiliki ongkos.

“Pada tanggal 7 Mei 2019 laki-laki ini sudah masuk ke kos korban dan mengambil dua jam tangan bermerek,” urainya. (ztm)

Karena Desakan Ekonomi

KAPOLRES Tapteng AKBP Sukamat menjelaskan pembunuhan yang dilakukan pasangan suami istri terhadap gadis 25 tahun tersebut dilatarbelakangi atas desakan ekonomi. DP yang sebelumnya bekerja sebagai penjaga warnet, dipecat. Sementara gaji istrinya sebagai pembantu warung ayam penyet tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan rumah tangga mereka.

Share this: