Adik Tewas Ditenggelamkan Abang dan Ponakan

Share this:
SS saat diamankan di Mapolres Tapteng.

Mayat dengan Kaki Terikat dan Mulut Dilakban

TAPTENG – Tim Identifikasi Polres Tapanuli Tengah (Tapteng) berhasil mengungkap identitas mayat laki-laki yang ditemukan mengapung di kawasan Pulau Putri, Kecamatan Tapian Nauli, Selasa (28/5) lalu. Dari hasil identifikasi sidik jari, korban diketahui bernama Abdul Bahri Simanungkalit (50), warga Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko Baru, Kecamatan Pandan.

Tidak hanya itu, dalam tempo 2×24 jam, Sat Reskrim Polres Tapteng juga berhasil mengungkap motif tewasnya Abdul Bahri. Tersangka pelaku adalah SS (62) alias BS dan NS alias TR, yang merupakan abang kandung dan keponakan korban sendiri. SS warga Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Tapteng, diduga sebagai pelaku pembunuhan terhadap Abdul Bahri dan sudah ditangkap di kediamannya pada Rabu (29/5).

Kapolres Tapanuli Tengah AKBP Sukamat melalui Kasat Reskrim AKP Dodi Nainggolan, dalam pesan tertulisnya mengungkapkan, abang korban yakni SS bersama keponakannya NS sengaja membawa korban ke tengah laut untuk ditenggelamkan. Menurut pengakuan SS, ia mengikat tangan adiknya ke belakang serta mengikat kedua kakinya menggunakan tali rafia, lalu menutup mulutnya dengan lakban.

“Pelaku mengakui membunuh korban pada hari Jumat tanggal 24 Mei 2019 sekitar pukul 20.00 WIB, di rumah Ibu Kandungnya di Jalan Batu Mandi Lingkungan I Kelurahan Lubuk Tukko Baru,” kata Dodi, Rabu (29/5).

Setelah itu, sambung Dodi, SS lalu mengajak keponakannya NS untuk membawa korban ke tengah laut dengan menaiki sebuah boat stempel. Setelah mengikatkan beberapa batu ke tubuh korban, SS lalu membuang korban di tengah laut. Sekitar 30 menit kemudian SS bersama NS kembali dari laut. Setelah memarkirkan boat, kedua pelaku menaiki mobil Toyota Rush warna putih dan pergi dari lokasi.

Menurut Dodi, motif pembunuhan itu karena korban dinilai sudah membuat resah warga karena sering melempari rumah tetangga. Selain itu, keluarga juga sudah sangat repot karena ulah korban yang mengidap penyakit kejiwaan akibat depresi. “Di hadapan petugas, SS mengakui perbuatannya membunuh adik kandungnya sendiri,” pungkas Dodi.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sesosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan terapung di dekat pulau Putri, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Selasa (28/5), sekiitar pukul 10.00 WIB. Mayat yang diperkirakan berusia sekitar 40 tahunan ditemukan dalam kondisi kaki dan tangan terikat tali dan mulutnya dilakban.

Monica Mendrofa, saksi mata yang menemukan mayat pertama sekali menerangkan, ia bersama keluarganya menemukan mayat tersebut ketika hendak liburan ke Pulau Mursala. Di saat melintas di pulau Putri terlihat ada yang terapung di laut dan semula dikira hanya batang kayu atau patung.

“Awalnya kami kira patung atau kayu. Tetapi karena penasaran kami berbalik arah mendekati objek. Setelah mendekat, ternyata itu adalah sesosok mayat laki-laki kisaran usianya 40-an dengan posisi kaki dan tangan diikat tali, dan mulutnya dilakban,” terangnya.

Takut dan cemas atas penemuan mayat itu, Monica menghubungi bapak tuanya Pendeta Juniaro Mendrofa, yang tinggal di Pandan, Tapteng, yang selanjutnya meminta Pendeta Juniaro Mendrofa agar menghubungi tim SAR Sibolga.
Tidak menungu lama setelah mendapatkan informas, 18 orang Tim Basarnas Sibolga yang dipimpin Kepala Pos SAR Sibolga, Hari Susanto, dibantu petugas dari Lanal Sibolga 2 orang dan Pol Airud Mabes Polri BKO Perairan Sibolga KP Bangau 5006, langsung meluncur ke TKP.

Tim Basarnas tiba di lokasi dan menemukan sesosok mayat yang dimaksud terapung di tengah-tengah laut. Kondisi mayat sudah mengembung serta mengeluarkan bau tidak sedap. Korban ditemukan dengan kondisi kaki dan tangan terikat tali nilon, dan mulut terlakban. Tidak hanya itu, pada bagian tubuh korban tergantung batu yang diikat dengan tali. (ztm)

Share this: