Raja Luat Sipirok Edward Siregar: Jika Ada yang Keberatan, Silahkan Temui Saya…

Bagikan:
Elemen masyarakat Sipirok diwakili Raja Luat, tokoh pemuda dan pemerhati lingkungan, dukung penuh pembangunan PLTA Batangtoru. (Amran Pohan/Metro Tabagsel)

TAPSEL – Berbagai elemen masyarakat di Kecamatan Sipirok menyatakan dukungan penuhnya terhadap keberlanjutan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 510 Mega Watt (MW) di Sungai Batangtoru, Kabupaten Tapsel.

Mereka yang terdiri dari raja adat, tokoh pemuda dan masyarakat pemerhati lingkungan, menyebut proyek pembangunan PLTA itu sangat menguntungkan rakyat. Sudah berjalan sekian lama, tidak menyebabkan pencemaran atau kerusakan lingkungan dan apalagi mengakibatkan punahnya satwa dilindungi seperti Orangutan Tapanuli.

“Jika ada oknum atau kelompok mengaku pecinta lingkungan seperti WALHI Sumatera Utara yang berkeberatan, silahkan datang dan temui saya,” tegas Raja Luat Sipirok Edward Siregar gelar Sutan Parlindungan Soeangkoepon, Jumat (23/2) malam.

Disebutkannya, dibandingkan dengan ratusan ribu hektare kawasan Hutan Batangtoru yang menjadi habitat Orangutan Tapanuli dan satwa lainnya, Areal Penggunaan Lain (APL) yang dibuka untuk keperluan pembangunan fasilitas PLTA tersebut sangatlah sedikit.

Areal itu bukan hutan lindung, tetapi lahan yang selam ini dikebuni warga kemudian diganti rugi perusahaan. Sesuai penjelasan yang diterima Raja Luat Sipirok pada sosialisasi rencana pembangunan PLTA, sebagian lahan yang dibuka untuk keperluan transportasi angkutan bahan itu akan ditanami kembali.

“Tudingan merusak lingkungan dan punahnya satwa merupakan alasan yang dibuat-buat. Buktinya, sampai sekarang tidak ada Orangutan Tapanuli, Harimau Sumatera atau Enggang yang ditemukan mati di Sipirok, Marancar dan Batangtoru,” tegasnya.

Hal serupa juga diutarakan tokoh pemuda Sipirok, Rifai Pane dan Lempang Siagian. Menurut keduanya, alasan punahnya satwa, karena kekurangan makanan dari pembukaan lahan, sangatlah tidak benar. Bahkan kontradiktif dengan kondisi di lapangan.

Diutarakan keduanya, beberapa bulan lalu justru PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) sebagai pengelola pembangunan PLTA Batangtoru, Kementerian LHK, Pemkab Tapsel dan warga tiga kecamatan, telah menanam pohon yang daun dan buahnya merupakan pakan bagi orangutan. Juga membangun koridor jembatan penyeberangan bagi primata di Blok Barat dan Blok Timur dan Blok Selatan ekosistem Batangtoru.

“Sudahilah menganggu pembangunan PLTA Batangtoru. Dan jangan ganggu masyarakat, karena PLTA sangat bermanfaat bagi kami. Demikian juga bagi pendidikan, perekonomian, kebutuhan energi listrik dan masa depan anak cucu kami,” ungkap warga.

Elemen masyarakat Sipirok juga menegaskan, sejak dahulu masyarakat hidup damai berdampingan dengan satwa Hutan Batangtoru. Tidak pernah saling mengganggu, karena ada kearifan lokal yang mengatur itu.

Ketua Paguyuban Pemerhati Lingkungan Sipirok, Marancar, Batangtoru (Simarboru) Abdul Gani Batubara menambahkan, alasan kekhawatiran terhadap bendungan PLTA di Sungai Batangtoru tidak perlu dilebih-lebihkan.

Pembangunan bendungan sudah diawali penelitian dan mitigasi yang dilakukan para ahli, baik itu faktor geologi, lingkungan dan konstruksinya. Tidak akan ada kekeringan terjadi di hilir bendungan, karena sesuai penjelasan yang disampaikan ke masyarakat, air tetap dialirkan ke sungai lewat bendung harian.

“Kita semua tahu aliran Sungai Batangtoru mayoritas berada di antara dua bukit yang curam dan jurangnya cukup dalam. Alirannya sangat jauh dari permukiman masyarakat Sipirok, Marancar dan Batangtoru, kecuali sedikit bangunan sebelum jembatan Trikora,” ujarnya.

Terakhir, perwakilan elemen masyarakat menegaskan bahwa menuntut penghentian pembangunan PLTA sama artinya memusuhi masyarakat Sipirok, Marancar dan Batangtoru. Khususnya daerah lingkar PLTA yang telah meraskan manfaat proyek ini. (ran)

Bagikan: