Gustika Jusuf Hatta dan Museum Multatuli

Bagikan:

Sadar Kadang Ada yang Mendekati karena Dia Cucu Proklamator

PRINSIP kejujuran dan kedisiplinan Bung Hatta, menurut Gustika Jusuf Hatta, terus dirawat di keluarga besar. Tak tertarik terjun ke politik.

MOH. HILMI SETIAWAN, Lebak

Dengan sedikit menahan senyum, Gustika Jusuf Hatta bertanya balik, “Ada kayu gak. Pengin getok pakai kayu.” Dan, senyumnya pun lantas mengembang.

Lepas tengah hari kemarin (21/2) itu, cucu Proklamator Mohammad Hatta tersebut baru saja menyampaikan kuliah umum di Museum Multatuli.

Yang dihelat dalam rangka perayaan ulang tahun pertama museum di Rangkasbitung, Lebak, Banten, tersebut.

Sebelum memenuhi undangan makan siang Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, didampingi sang ibunda Halida Hatta, Gustika menyempatkan mengelilingi museum. ”Orang-orang di Lebak beruntung. Museum Multatuli-nya lebih bagus dan lebih besar dibanding di (Amsterdam, Red) Belanda,” kata alumnus studi perang King’s College, London, Inggris, itu.

Perempuan 25 tahun tersebut tampil sangat kasual. Dengan setelan baju cokelat serta celana hitam yang terlihat bolong di bagian lutut. Sneakers putih menemani penampilannya.

Di sela-sela berkeliling museum itulah, Jawa Pos menanyakan apakah dia tak tertarik terjun ke politik. Dan, respons dalam nada bercanda tadi jelas memperlihatkan keengganan. Setidaknya sekarang.

Ya, setidaknya sekarang. Sebab, darah politik mengalir deras dalam dirinya. Kakeknya sudah aktif dalam pergerakan sejak di kampung halamannya di Bukittinggi, Sumatera Barat, dilanjutkan ketika kuliah di Belanda, hingga kembali ke Jakarta.

Bung Hatta dikaruniai tiga putri dari pernikahannya dengan Rachmi Rachim: Meutia, Gemala, dan Halida. Jalan politik pernah dirasakan Meutia dan Halida. Sebelum mundur, Halida terlibat di Gerindra.

Menyandang nama besar Hatta, bagi Gustika, mengandung beban tersendiri. Dia terkadang merasa, ada orang yang mendekatinya lantaran dirinya cucu proklamator. Atau, nama sang kakek dimunculkan demi kepentingan tertentu.

Beberapa waktu lalu nama Gustika sempat terseret ke dalam konstelasi pemilihan presiden. Pemicunya saat itu adalah ucapan Dahnil Anzar Simanjuntak, juru bicara pasangan calon presiden-wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Saat itu Dahnil menyamakan Sandiaga dengan Bung Hatta.

Gustika melalui akun Twitter pribadi, @Gustika, kemudian merespons. “Untuk orang yang kesabarannya minus kayak gue gini denger kakek gue disamain dengan Sandiaga Uno rasanya mau muntah,” tulisnya di Twitter.

Namun, akhirnya perseteruan tersebut mereda. Gustika kemudian menuturkan masih punya hubungan kekerabatan dengan Sandiaga. Adik ayah Gustika, Gary Rachman Makmun Jusuf, menikah dengan sepupu mantan wakil gubernur Jakarta itu.

Sejarah Indonesia mencatat Hatta sebagai sosok jujur, sederhana, disiplin, dan mandiri. Dia sangat teguh memegang prinsip.

Prinsip itu, menurut Gustika, masih terus dirawat di keluarganya. Juga, selalu diaplikasikan dalam keseharian. Di antaranya, prinsip menjaga kejujuran dan tidak mengambil hak orang lain atau korupsi. “Misalnya, ambil bawa lima tetapi bayar tiga,” katanya, lantas tersenyum.

Nilai-nilai yang dijunjung tinggi Hatta itu pula yang terkandung dalam berbagai penjelasan Gustika di sesi tanya jawab seusai kuliah umum. Misalnya saat merespons Wahyu Rustanto, mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

Wahyu menanyakan dampak kolonialisme yang masih terasa hingga sekarang. “Seperti masih adanya perpeloncoan di ospek dan sikap minder ke negara lain. Padahal, kita juga orang hebat,” tuturnya.

Dengan suara tegas, Gustika mengatakan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu minder. Dia mengingatkan, tugas anak muda saat ini adalah mengusir rasa tak percaya diri itu.

Dia mencontohkan, banyak teman kuliahnya di London yang berasal dari pedesaan di Inggris. Desa yang hanya berisi 40 rumah. Juga, masih banyak kambing, domba, dan babi. Namun, mereka tidak pernah minder. “Sebab, mereka selalu pegang prinsip bahwa setiap orang membawa keunikan masing-masing,” katanya.

Gustika juga mengajak anak-anak muda agar berpikir terbuka. Di antaranya dengan membedakan antara bangsa dan negara.

“Saya tidak suka dengan negara Inggris atau negara Belanda. Karena keduanya tercatat pernah menjajah Indonesia,” katanya, memberi contoh.

Namun, dia suka dengan teman-temannya yang berkebangsaan Inggris. Begitu pula dengan teman-temannya yang berkebangsaan Belanda.

Dia mengingatkan, ketika dahulu pemerintah Belanda atau Inggris menjajah Indonesia, belum tentu bangsa atau masyarakat Inggris dan Belanda setuju. “Orang di Belanda saat itu lebih memperhatikan harga mentega ketimbang kondisi di Hindia Belanda,” jelasnya.

Sejarah adalah bagian yang tak terpisahkan dari studi perang, jurusan yang dia ambil di King’s College. Sebenarnya, studi perang bukan interes pertamanya. Awalnya, dia tertarik dengan hubungan internasional.

“Panjang ceritanya. Panjang banget,” ucap dia.

Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk jurusan studi perang. Apalagi, program studi perang di kampusnya termasuk yang terbaik di dunia. Di program studi tersebut, Gustika mengambil konsentrasi perlindungan cagar budaya saat konflik.

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Ubaidillah Muchtar mengatakan, ulang tahun pertama Museum Multatuli sengaja menghadirkan banyak generasi milenial. Sebab, selama setahun museum itu beroperasi, kunjungan generasi milenial mendominasi.

Kunjungan anak-anak muda itu membawa dampak. Sebab, mereka membaginya lewat media sosial. “Maka, mereka diberi ruang. Termasuk, menghadirkan Gustika sebagai sosok milenial juga,” jelasnya.

Ubai yang juga penanggung jawab museum menuturkan, sejak museum dibuka pada 11 Februari 2018 hingga 31 Desember 2018, jumlah pengunjung lebih dari 58 ribu. Sebanyak 250 orang di antaranya adalah pengunjung mancanegara. Museum Multatuli biasanya ramai pada Sabtu dan Minggu.

Menurut Gustika, di negara di mana sejarah diedukasikan dengan cara yang masih membosankan seperti Indonesia, mengunjungi museum bisa menjadi alternatif. “Nggak harus hanya dengan membaca buku-buku sejarah. Bisa ke museum daripada ke mal melulu,” ucap dia.

Idealnya, tambah Gustika, pembelajaran sejarah lebih bersifat eksploratif dan investigatif. Jadi, murid diberi tugas atau proyek. Kemudian, secara berkelompok atau individu, murid ditugaskan untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang tokoh tersebut. Kemudian, murid menyusunnya menjadi tulisan karya sendiri.

“Cara seperti itu mengajak siswa tidak sekadar belajar sejarah. Tetapi juga dibiasakan untuk mempelajari cara memprioritaskan informasi dan kroscek informasi,” katanya sebelum bersama sang bunda bergegas ke kantor bupati untuk makan siang. (*/JPG)

Bagikan: