Susahnya Jaringan Internet di Desa Makarti Nauli

Bagikan:
SULIT JARINGAN INTERNET- Warga Desa Makarti Nauli terlihat berada di puncak Bukit Pulo Labi untuk mendapatkan askses jaringan internet. (Darwis Halawa)

TAPTENG – Saat ini, perkembangan teknologi semakin pesat dan erat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kerap digunakan untuk mempermudah hidup bermasyarakat, begitupun akan informasi.

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini, setiap orang pasti butuh informasi, baik itu memberi atau menerima informasi. Seperti yang banyak digunakan masyarakat saat ini dengan menggunakan SMS, telepon, email, chatting dan lain sebagainya. Begitupun seperti jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya, tentu dengan menggunakan jaringan internet yang saat ini kerap digunakan oleh masyarakat luas.

Dengan perkembangan teknologi, dunia ibaratnya ruang tanpa batas. Dan untuk mendapatkan maupun berbagi informasi dan berkomunikasi seolah tanpa sekat ruang dan waktu lagi.

Kebanyakan, pelajar saat ini kerap memasuki warung internet untuk saling bersapa dengan temannya di dunia maya (Dumay). Bahkan, untuk mencari tugas mata pelajarannya pun tidak jarang melakukan searching yang juga dapat dilakukan melalui smartphone karena akses jaringan internet yang saat ini gampang didapatkan.

Namun sayang, warga di Desa Makarti Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), tidak seberuntung warga yang berada di daerah dan perkotaan lain yang mudah mendapatkan askses internet dan berselancar di dunia maya.

Bahkan untuk berselancar di Dumay dengan menggunakan akses jaringan internet, warga desa harus naik ke puncak bukit Pulo Labi yang memiliki ketinggian kurang lebih 40 meter. Posisi bukit itu berada di pertengahan pemukiman desa.

“Memang harus naik ke Bukit Pulo Labi itu baru dapat jaringan internet. Kalau enggak, jangankan jaringan internet, untuk menelpon saja susah di sini,” ucap Juar, salah seorang warga setempat kepada New Tapanuli, Minggu (10/2) lalu.

Mengingat di puncak Bukit Pulo Labi itu mudah mendapat akses jaringan internet, warga setempat pun kerap menaiki bukit untuk mengakses jejaring sosial dengan menggunakan smartphone.

“Sering ke situlah (Bukit Pulo Labi,red) orang kalau mau buka Facebook, buka Google. Kalau mau menelepon pun biar jaringannya nggak putus-putus, ya ke situ juga warga,” katanya.

Sementara, beberapa pelajar yang ingin mencari tugas mata pelajarannya juga terpaksa rela menaiki bukit tersebut, meski akan sedikit terasa lelah. “Mau cari bahan tambahan untuk tugas saja bang. Tugas dari sekolah bang,” kata Herman.

Rela mendaki bukit yang cukup tinggi itu, menjadi pilihan beberapa pelajar di desa itu demi dapat mengakses jaringan internet, mengingat desa mereka jauh dari lokasi perkotaan yang ada warung internet dan juga mudah mengakses jaringan internet dengan menggunakan smartphone.

“Dari pada keluar (ke perkotaan,red) ke sini sajalah bang, keluar jauh,” katanya.

Kondisi sulitnya mengakses jaringan internet di desa itu, menurut Kepala Desa Makarti Nauli Nasrul telah mereka rasakan sejak berdirinya desa (eks transmigrasi,red) itu sekitar 20 tahun lebih.

“Sudah lama sekalilah, mau menelpon saja pun susah di sini. Kalau di rumah itu, kadang jaringannya muncul kadang hilang. Kalo nelpon suara mau nggak jelas, putus-putus, nggak nyaman,” ucapnya.

Nasrul mengaku, Bukit Pulo Labi yang ada di wilayah yang dipimpinnya itu telah menjadi lokasi pilihan utama bagi warganya untuk mendapatkan jaringan internet maupun jaringan telepon.

“Ke situ saja sekarang orang kalau mau buka internet, mau menelepon pun sering juga memang ke situ,” katanya.

Kondisi sulitnya mendapatkan akses jaringan internet itu, masih kata Nasrul, diakuinya dikarenakan di sekitar desa mereka itu tidak adanya tower permanen yang didirikan.

“Di sekitar desa kita ini memang nggak ada tower, itu makanya sulit sekali jaringan di sini. Ya kalo harapan kita adalah tower didirikan di sini. Saat ini kan sudah serba online, kalau jaringan internet sudah mudah, tentu kita maupun warga di sini sudah mudah menyelesaikan pekerjaannya dengan dukungan jaringan internet. Pelajar kita juga di sini banyak yang sulit mencari bahan tugas tambahan sekolah mereka, makanya sering juga pelajar naik ke bukit itu. Ya kalau kita di sini berharap tower itulah ada dibangun,” harapnya.

Sementara, Maslon Sitompul salah seorang warga Dusun Sordang, Desa Unte Mungkur IV, Kecamatan Kolang yang bertetangga dengan Desa Makarti Nauli, mengaku bahwa mereka pun kerap mendaki bukit itu untuk mendapatkan jaringan internet mau pun sinyal telepon.
“Mau bagaimana lagilah, di tempat kami juga susah jaringan telepon apalagi internet, makanya ke bukit inilah tempat yang nyaman di sini kalau mau pakai jaringan internet,” ucap Maslon.

Selain mendapatkan jaringan internet yang mudah, Maslon juga mengaku bahwa berada di Bukit Pulo Labi itu sangat nyaman, apalagi dapat memandang seluruh sudut desa yang dipenuhi tanaman para petani di sana.

“Nyamanlah di sini sambil internetan, kita juga bisa memandang jauh sampai ke laut dari sini. Apalagi kalo sore anginnya itu sejuk kali disini,” katanya.

Kendati merasa nyaman di Bukit Pulo Labi itu untuk mengakses jaringan internet sembari memanjakan mata dengan memandang indahnya tanaman hijau di kebun warga desa, Maslon berharap adanya pembangunan tower.

“Ya, kita berharap adalah tower yang dibangun, biar mudah juga kita warga disini kayak orang di perkotaan gampang mendapat jaringan internet,” harapnya.

Sekedar gambaran, untuk dapat mencapai puncak bikit Pulo Labi itu, warga harus menapaki sisi bukit. Dimana pada sisi bukit itu, telah dibuat jalan dengan menggunakan alat berat oleh pemilik lahan, sehingga warga yang hendak ke puncak bukit harus melalui jalan yang penuh dengan pecahan bebatuan yang beralaskan tanah setelah dilakukan pembentukan akses jalan. (dh)

Bagikan: