Aniaya Ajudan Kepala Bappeda, Divonis 15 Hari

Bagikan:
Terdakwa Banjir Simanjuntak saat menghadiri sidang pidana ringan penganiayaan. (ALFREDO SIHOMBING)

TAPUT – Terdakwa kasus penganiayaan ajudan Kepala Bappeda Taput Masriani Damanik hanya divonis 15 hari. Pasalnya kasus itu hanya dianggap sebagai penganiayaan ringan.

Hal itu terungkap dalam sidang pembacaan putusan yang digelar di PN Tarutung, Senin (11/2). Sidang itu dipimpin hakim tunggal Sayed Fauzan, dan dihadiri panitera pengganti Willianto Sitorus, jaksa penunut umum, Ps Kanit Pidum Polres Taput Aipda Haris Matondang yang juga selaku penyidik, Briptu Fachrul Germadi selaku penyidik pembantu dan kuasa hukum terdakwa Lambas Pasaribu.

Hakim Tunggal Sayed Fauzan saat membacakan hasil putusan menegaskan, bahwa terdakwa diputuskan bersalah melakukan tindak pidana ringan sebagaimana termaktub dalam Pasal 352 ayat 1 KUHPidana dan dijatuhkan hukuman ringan selama 15 hari. “Menetapkan masa pidana penjara tersebut tidak perlu dijalani. Jika kemudian hari ada perintah lain dalam keputusan hakim, karena pidana bersalah melakukan kejahatan atau pelanggaran lain serta tidak memenuhi syarat sebelum menghabiskan masa percobaan selama 1 (satu) bulan,” katanya.

Sebelumnya, dalam sidang itu Masriani Damanik selaku korban penganiayaan menjelaskan, pada tanggal 31 Juli 2018 sekira pukul 11.30 WIB terdakwa mau masuk ke ruangan Kepala Bappeda Taput dan saat itu dia melarang terdakwa, dengan alasan masih ada tamu di ruangan Kepala Bappeda. “Saat itu terdakwa memaksa masuk dan saya menghalanginya dan menahan pintu. Namun terdakwa memaksa keras untuk masuk dengan memegang tangan saya dengan cara mendorong dan menekan ke engsel pintu, sehingga tangan saya kena gores. Jarak saya pada saat itu dengan terdakwa hanya 80 cm,” ujar Masriani.

Saksi lainnya, Pardamean Hutauruk selaku supir mobil dinas Kepala Bappeda Taput mengaku saat kejadian dia berada di ruang tunggu Kepala Bappeda bersama korban. “Saat itu terdakwa mau memaksa masuk ke ruang kepala Bappeda dan korban mengahalangi dan memegang engsel pintu dengan tangan kiri. Lalu terdakwa memaksa dan meraih tangan korban, lalu karena tangan korban tidak tahan pintu terbuka dan pergelangan tangan kiri korban mengalami luka gores. Jarak saya pada kejadian itu sekitar 3 meter,” jelasnya.

Saksi lainnya Ganda Hutapea dalam keterangannya menjelaskan, tidak mengetahui secara langsung kejadian itu karena posisinya pada saat itu berada di kantin. “Sebelumnya saya berada di kantin. Saat melihat terdakwa memasuki kantor Bappeda, saya mengikutinya dari belakang, namun tidak melihat secara langsung kejadian itu” ujarnya.

Sementara saksi terdakwa Tulus Nababan menjelaskan, hari Selasa tanggal 31 Juli 2018 sekira pukul 08.00 WIB dia ditelfon dan diajak terdakwa untuk menemui Kepala Bappeda dengan agenda meminta utang Kepala Bappeda Taput. “Saat kami sampai langsung ke ruang ajudan. Saat itu terdakwa menanyakan keberadaan Kepala Bappeda dan dijawab korban ada di ruangannya,” katanya.

Tulus mengaku, saat itu dia melihat tidak ada perbuatan tindak pidana, apalagi posisinya tepat berada di belakang terdakwa. “Jarak saya dengan terdakwa 1/2 meter dan saat itu tidak perdebatan,” ungkapnya.

Saksi terdakwa lainnya Ferry Simanjuntak sebelum diperiksa penuntut keberatan dimintai keterangan sebagai saksi karena merupakan anak kandung terdakwa menjelaskan, saat itu terdakwa menanyakan kepada korban soal keberadaan Kepala Bappeda Taput. “Korban menjawab ada dan Kepala Bappeda masih ada tamu dan sambil membuka pintu serta memperlihatkan ruangan tersebut,” jelas Ferry.

Bahkan, kata Ferry, saat itu Kepala Bappeda sempat menegur terdakwa dengan mengatakan “Horas Tulang”. “Saat itu saya lihat dan saya rasakan tidak ada perdebatan dan tindakan aniaya di kantor Bappeda,” tuturnya.

Saksi ahli yakni dr Sonia Siahaan selaku dokter jaga di RSU Tarutung mengatakan, saat itu tanggal 31 Juli 2018 korban datang ke Rumah Sakit Umum Tarutung untuk tujuan visum dan tidak didampingi Polri. “Setelah itu kami lakukan pemeriksaan, sesuai permintaan visum dari polri yang datang kepada pihak rumah sakit. Yang mengeluarkan visum ada bagian medical record RSU, hanya saya membuat hasil pemeriksaan saya dan menandatangi surat itu,” jelasnya.

Dia menjelaskan, saat diperiksa ada luka gores di pergelangan tangan kiri korban sebanyak 3 garis. “Luka gores biasa tidak mengeluarkan darah, dan luka tersebut dikarenakan trauma benda tajam dan termasuk luka ringan,” jelasnya.

Adapun rangkaian sidang yang dimulai sejak pukul 10.45 WIB dan berakhir pukul 18.00 WIB itu dengan agenda pembacaan dakwaan, pemeriksaan terdakwa dan pemeriksaan saksi-saksi pengambilan sumpah terhadap korban Masriani Damanik. Sidang sempat diskor dan dilanjutkan sekitar pukul 15.00 WIB untuk pembacaan pledoi tertulis kuasa hukum, pembelaan dan pembacaan putusan. (as/rb)

Bagikan: