Menengok Kopi Hargo Kiloso, Makin Mahal Saat Pahitnya Berasa di Lidah

Bagikan:
Seorang jamaah Haji asal Jambi dipapah petugas kesehatan saat akan menaiki pesawat menuju embarkasi Batam di bandara Sulthan Thaha Saifuddin, Jambi. Tahun ini, Komisi VIII DPR RI mengingatkan agar pelayanan terhadap jamaah haji tetap terlaksana dengan maksimal.

Kecamatan Ngebel menjanjikan iklim yang ideal bagi tumbuhnya pohon kopi. Suhu dan ketinggian wilayah pegunungan itu menghasilkan biji kopi bercitarasa tinggi. Tak heran biji kopi Hargo Kiloso dari wilayah Talun, Ngebel, menjadi langganan kedai-kedai kopi di seputaran eks-Karesidenan Madiun.

NUR WACHID

SETIAP April-Mei, gawai Heru Purwo Handoko, 28, lebih sering berdering. Jauh di pelosok Talun, Ngebel, Handoko di bulan-bulan itu acap menerima telepon dari sejumlah kedai kopi di seputaran eks-Karesidenan Madiun.

Sejak setahun terakhir, mereka memesan biji kopi di kelompok tani (Poktan) Hargo Kiloso untuk diseduh kepada para penikmat kopi di kedai-kedai. ‘’Panen perdana kami mencapai lima ton,’’ kata Handoko, Sekretaris Poktan Hargokiloso seperti dikutip Radar Madiun (Jawa Pos Group), Rabu (6/2).

Biji kopi arabika yang dipetik 22 petani anggota Poktan Hargo Kiloso belakangan tenar di kalangan pencinta kopi. Jika diseduh, rasa buah dari biji kopi arabika itu begitu terasa. Bercampur dengan pahit dan sedikit rasa manis. Harganya pun tinggi. Handoko menyebut, dihargai kisaran Rp 100-150 ribu per kilogramnya. ‘’Biji kopi kualitas tinggi tentu sudah melalui proses sortir dan lain sebagainya,’’ ujarnya.

Jumlah pelanggan terus bertumbuh. Biji kopinya banyak diseduh di berbagai kedai kopi di Ponorogo, Kota/Kabupaten Madiun, hingga Magetan atau Ngawi. Beberapa kali pesanan datang dari kota besar macam Surabaya, Malang, Jogjakarta, atau Semarang. ‘’Prospeknya menjanjikan,’’ sebut Handoko.

Menurut pemilik atau pengelola kedai kopi, rasa buah dari biji kopi arabika Hargo Kiloso masih terasa. “Selain pahit dan sedikit rasa manis,” imbuhnya.

Handoko menyebut, desanya sebenarnya sudah cukup dikenal sebagai daerah penghasil kopi. Sampai sekarang, bahkan 30 hektare kebun kopi robusta membentang. Sementara baru 10 hektare yang berjenis arabika, dan baru ditanam sekitar dua tahun terakhir. Iklim dingin di Talun sangat mendukung pertumbuhan secara optimal. ‘’Ketinggian ideal untuk pohon kopi di kisaran 1.300-1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketinggian Talun di kisaran itu,’’ urainya.

Meski sudah lama dikenal, baru sekitar dua tahun terakhir para petani kopi Talun ‘’sadar’’. Selama ini, pohon kopi diperlakukan seadanya. Mulai proses tanam, perawatan, hingga biji kopi dipetik dari pohon. Mereka tak pernah mengenyam ilmu perawatan ideal. Pun, biji kopi juga tak pernah disortir. ‘’Dulu dijual gelondongan ke pasar. Tidak dipilah dulu. Sarana dan prasarana yang mendukung juga tidak ada,’’ terangnya.

Kesadaran petani mulai tergugah setelah intens bertemu para pemilik kedai kopi. Dari sana, petani mengenal istilah green house, mesin roasting, juga peralatan-peralatan lain yang penting untuk mendukung hasil perkebunannya. Sebagian dibeli secara mandiri. Sisanya bantuan dari pemerintah. Untuk bisa melebarkan sayap pemasaran tak hanya di kedai kopi lokal, Handoko dan 21 petani Poktan Hargo Kiloso menghadapi tantangan.

‘’Faktor cuaca dan hama membuat panen tidak maksimal. Kami harap, pemerintah bisa turut peduli. Apalagi, prospek biji kopi Hargo Kiloso sudah terbukti,’’ pungkasnya. (jpc/int)

Bagikan: