Ahli Teknologi Informasi Itu Bermarga Hasibuan

Bagikan:

MetroTabagsel.com – Profesor Ucok Zainal Arifin Hasibuan MSc PhD saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM).

Pemanfaatan Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sudah merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Konon, penetrasinya pun sudah sangat luar biasa. Bahkan anak yang belum sekolah SD-pun sudah bisa membuka YouTube.

Sayangnya, pemanfaatan TIK belumlah seimbang dengan investasi/biaya yang kita keluarkan. “Bahkan lebih banyak mudarat yang didapat dari pada manfaatnya,” kata Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer (FIK) Universitas Indonesia (UI) Prof Zainal Arifin Hasibuan MSc PhD mengatakan.

Zainal Hasibuan mengatakan, dengan biasa pembelian pulsa ataupun paket internet yang kita beli setiap kali habis, TIK melalui telepon smarphone yang kita pegang sehari-hari, masih lebih banyak dimanfaatkan untuk gosip, gonjang-ganjing dan mencari-cari informasi yang tak berguna. “TIK belum banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan,” tambah Zainal Hasibuan.

Zainal Hasibuan menegaskan, sudah saatnya pemanfaatan TIK sebaiknya berorientasi kesejahteraan. Misalnya Rp100 ribu yang dihabiskan per bulan untuk membeli pulsa atau paket internet, harus dimbangi dengan pemasukan dari pemanfaatan TIK tersebut.

“Caranya, jangan mau jadi budak teknologi, tapi harus menjadi master teknologi. Kalau jadi budak teknologi, kita tidak akan bisa mengubah TIK menjadi bermanfaat. Tapi kalau menjadi master teknologi, kita akan berpikir dan berinovasi untuk pemanfaatan TIK tersebut,” tutur pria yang dipinang Partai Berkarya ini maju sebagai Caleg Sumut II.

Yang paling gampang menjadikan TIK meningkatkan kesejahteraan, kata Zainal, adalah pemanfaatan media sosial (medsos) seperti facebook, instagram dan WhatsApp (WA). Kalau selama ini medsos hanya dimanfaatkan membaca berita-berita gosip dan hoax, lebih baik dijadikan untuk memaparkan hal-hal yang bernilai ekonomi.

Zainal Hasibuan mencoba membuka mata dan telinga kita untuk memanfaatkan TIK. Misalkan jika ibu kita di rumah ada yang pandai memasak rendang, coba diviralkan lewat medsos. Tulis besar-besar di medsos, siapa yang mau kenduri hendak pesan rendang, silakan melalui saya. Harga daging Rp150 ribu per kg, setelah jadi rendang hanya Rp200 ribu.

“Syaratnya, sehari sebelumnya harus dipesan. Ini namanya industri rumahan yang bisa berkembang terus,” kata mantan Dekan Fakultas Ilmu Komputer UI.

“Pokoknya, keterampilan atau hal-hal yang bernilai ekonomi, viralkan saja melalui medsos,” tambahnya.

Bagi adik-adik mahasiswa teknik informatika, Zainal Hasibuan menyarankan untuk membuat aplikasi-aplikasi yang memudahkan orang untuk memesan atau berbelanja yang diinginkan.

Dia juga mengingatkan mahasiswa, jika membuka bisnis online jangan bermain menyaingi usaha besar (UB), tapi bersainglah di level usaha mikro dan kecil menengah (UMKM). Pasalnya, dari Rp199 trilun potensi binis online atau E-Commerce baru Rp1,9 trilun yang tergarap. Dan dari potensi itu, 99,9 persen pangsanya di UMKM,” katanya.

Selain itu, Zainal Hasibuan menuturkan, Industri 4.0 yang cepat berkembang menciptakan masalah dan tantangan dalam penelitian dan pengembangan. Paradigma baru penelitian menghasilkan penemuan dan inovasi pengetahuan dan teknologi disruptif untuk Industri 4.0.

Pengetahuan dan teknologi yang menggunakan ini didorong oleh volume besar data, kecepatan pemrosesan data besar, dan kebenaran validitas data.

Namun menurutnya saat ini teknologi informasi dan komunikasi belum digunakan secara optimal sebagai bahan bakar ekonomi digital di Indonesia. Karena para UKM masih terkendala beberapa faktor yaitu belum ada kemampuan dari para pelaku usaha, minimnya modal, dan belum memenuhi kaidah bisnis yang ada. Sehingga peran provider digital ini yang menjadi jembatan menyediakan segala service untuk para pelaku usaha. (Bsl)

Bagikan: