Perayaan Imlek di Kota Padangsidimpuan: Semoga Semua Mahluk, Hidup Berbahagia…

Bagikan:
Etnis Tionghoa warga Kota Padangsidimpuan melakukan sembahyang merayakan Imlek di Vihara Avalokitesvara, Sadabuan, Kota Padangsidimpuan, Selasa (5/2). (Oryza Pasaribu/Metro Tabagsel)

SIDIMPUAN – Etnis Tionghoa yang mendiami Kota Padangsidimpuan memiliki histori dalam mengembangkan perekonomian masyarakat. Peran itu sudah berlangsung sejak zaman kolonial dulu. Lewat perayaan Imlek ke-2570 ini, diharapkan bisa membawa kedamaian, aman, sejahtera dan bersama-sama merajut kebhinekaan.

“Kalau untuk perayaan Imlek kali ini tidak dilaksanakan secara meriah. Sama seperti tahun sebelumnya, kami masyarakat etnis Tionghoa beragama Budha hanya melakukan sembahyang dan doa bersama,” ungkap Ketua Majelis Budhayana Cabang Tabagsel Febrius SW di Vihara Avalokitesvara, Sadabuan, Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan, Selasa (5/2).

Perayaan Imlek, kata Febri, merupakan tradisi yang dimiliki oleh etnis Tionghoa dan bukan sebuah kegiatan keagamaan. Biasanya dilakukan setiap tahun dan maju selama 11 hari setiap tahun. Dan setiap tiga tahun sekali, waktu perayaannya akan kembali bertambah Satu Bulan.

“Perayaan Imlek artinya merayakan Musim Semi. Sama seperti tradisi Lebaran atau Tahun Baru, berkumpul bersama keluarga dan menyambut tahun baru dengan harapan dilimpahkan berkah sampai dengan tahun berikutnya. Jadi tidak berdasarkan agama, mau itu Budha, Kristen ataupun muslim yang beretnis Tionghoa bisa merayakannya,” ungkap pria yang juga pemuka masyarakat etnis Tionghoa di Kota Padangsidimpuan ini.

Cerita Febri, keberadaan Etnis Tionghoa di Kota Padangsidimpuan sudah ada sejak zaman kolonial. Kebanyakan etnis Tionghoa pada saat itu adalah pedagang. Tak hanya itu, ada juga yang mengorbankan jiwa dan hartanya untuk berperang, ikut mengusir penjajah saat itu. Dan itu bisa dibuktikan dari sejarah serta peninggalan yang masih terlihat sampai saat ini.

“Seperti Losmen Sentral, meski sudah tidak difungsikan lagi. Namun itu bukti sejarah yang masih bisa kita lihat wujudnya. Pemiliknya adalah Etnis Tionghoa, dan keluarganya juga ikut berperang pada jaman penjajahan dulu,” ujar Febri menyebut nama sebuah bangunan tua yang berada di Jalan Sudirman persis di depan Pasar Buah sekarang ini.

Dalam perkembangan ekonomi, etnis Tionghoa juga memiliki peran sejarah yang kuat di Kota Padangsidimpuan.

“Di Tabagsel ini, etnis Tionghoa paling banyak tinggal di Kota Padangsidimpuan. Karena kami dulu dilarang sampai ke kecamatan atau desa-desa yang ada,” terangnya dan menyebut ada aturan yang melarang hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, mengikuti perkembangan zaman, adat dan budaya yang ada, etnis Tionghoa di Kota Padangsidimpuan sudah berasimilasi. Tidak hanya dominan kepada satu agama saja. Ada yang beragama Kristen dan banyak juga yang memilih keyakinan sebagai Muslim.

“Ada yang menikah dengan suku asli di sini, ada yang menikah dengan suku Jawa di sini. Dan agama yang dianut pun tidak lagi hanya Buddha, sudah ada yang muslim dan juga kristen,” jelasnya.

Lewat perayaan Imlek ke-2570 ini, kata Febri, diharapkan bisa saling bersama-sama merajut kebhinekaan untuk kedamaian. ” Semoga semua mahluk, hidup berbahagia,” pungkasnya. (yza)

Bagikan: