Seminar Parenting Binaul Ummah: Ini Berbagai Tips Membangun Keluarga Harmonis

Bagikan:
Ketua YP Binaul Ummah bersama segenap Korps Pejuang Pendidikan serta Narasumber menyerahkan bingkisan hadiah bagi para peserta Seminar Parenting ke 13, Ahad (3/2) di MAN 2 Padangsidimpuan. (Samman Siahaan/Metro Tabagsel)

SIDIMPUAN – Sekolah Islam Terpadu Bunayya, Yayasan Pendidikan Binaul Ummah Padangsidimpuan, melaksanakan seminar parenting yang ke-13, dengan tema membangun keluarga yang harmonis, dinamis dan romantis, Ahad (3/2) di Gedung Aula MAN 2 Padangsidimpuan.

Ketua YPBU Kota Psp, Khoiruddin Rambe SSos membahas berbagai poin persoalan yang kerap menjadi kendala bagi pasangan suami-istri untuk membawa keluarga yang harmonis, dinamis dan romantis. Sebagaimana pada tema seminar kali ini.

Ada 4 poin katanya yang sering menghambat terjadinya itu, salahsatu diantaranya ada persepsi dan budaya yang dipertahankan. Seperti, apabila seorang suami mengambil sedikit peran di dapur yang bertujuan meringankan beban sang istri. Maka akan dianggap hal yang menurunkan marwah sang suami. Hal itu dianggapnya dapat mengurangi keharmonisan, dinamis dan keromantisan berkeluarga.

Secara lengkap, narasumber Seminar Parenting ini. Muhammad Nuh MSP dan Dariantini MA, membicarakan langkah membangun keluarga surgawi, sesuai dengan tuntunan agama. Dinamis, Harmonis dan Romantis, yang juga menjadi kunci akan pembangunan generasi yang beriman dan cerdas.

Muhammad Nuh menegaskan, Pernikahan adalah dipersatukannya dua keluarga yang berbeda. Maka, perbedaan hal yang wajar dan keluarga dengan berbagai persoalan dan masalah juga, semestinya dipahami demikian.

“Adakah pernikahan tanpa masalah? Hampir tidak ada. Begitulah keluarga, penuh dinamika,” ungkapnya.

Sang istri yang juga merupakan ketua Persistri, Dariantini MA menerangkan, dalam menuju keluarga yang harmonis dan dinamis ini, perlu disadari adalah seorang suami merupakan Qowam (Pemimpin), bagi wanita, yakni istrinya.

Maka, di sini perlu disadari seorang suami, beban tugasnya, sebagai pemimpin. “Ini ada makna beban, harus dilaksanakan Qowam keluarga yang pertama adalah kecukupan nafkah. Suami akan memiliki kehormatan jika dia memenuhi yang pertama ini,” katanya.

Kemudian yang kedua menjadi tugas suami sebagai Qowam tadi, kata Dariantini, mendidik dan membimbing anak dan istri. Kewajiban seorang suami membimbing istri yang akan menjadi ibu anak-anaknya, pada jalan yang benar.

“Ibu akan mendidik anak-anaknya. Ibu ini memiliki banyak waktu bersama anak-anak, dibutuhkan ibu yang cerdas bagi pendidikan anak nantinya. Maka, jangan biarkan istri terpojok-pojok dia di dapur. Kasih dia kesempatan belajar, ikut pengajian, seminar,” jelas Dariantini.

Ketiga, katanya, mempergauli istri dengan baik. Di sini katanya kasih sayang dan cinta pasangan itu dirawat. Dan terakhir, dengan memimpin istri ke jalan yang benar sesuai tuntunan agama. “Demikian untuk membentuk keluarga yang dinamis, harmonis, romantis.

Sakinah, mawaddah wa rohmah,” timpalnya.

Selanjutnya, Muhammad Nuh, Ketua Persis Sumut ini meneruskan materi agar terciptanya Keluarga Samawa. Maka yang pertama katanya meluruskan orientasi atau tujuan dalam berkeluarga itu. Yang pertama nikah itu adalah ibadah, harus diluruskan niat bahwa nikah itu adalah ibadah.

“Bagian juga proses meningkatkan iman dan takwa. Jangan sampai menurunkan nilai ibadah. Kemudian, tujuan nikah menjauhi fitnah. Dari untuk laki-laki dan juga perempuan. Dan komitmen berkeluarga yang benar, adalah asah, asih dan asuh,” jelasnya.

Yang kedua, adanya keterbukaan. Problem suami dan istri seringkali timbul, katanya dari ketidakterbukaan dan ketidakjujuran. Ketiga, ialah Tasamuh atau toleransi. Toleransi di sini, adalah menerima kurang dan lebihnya pasangan dalam berkeluarga.

“Tidak ada orang yang sempurna. Suami kita itu manusia biasa, yang penuh kekurangan seperti kita. Ketika sudah menikah, kita sudah harus menerima kelebihan dan kekurangan. Begitu juga pada istri. Bagaimana membangun toleransi itu, kenali dan pahami pasangan kita itu, dari latarbelakangnya,” kata Muhammad Nuh menerangkan bahwa kekurangan di luar Syari, hal yang harus diterima dalam berhubungan rumah tangga.

Terakhir, adalah bermusyawarah dan komunikasi. Dalam setiap persoalan, harus ada persamaan persepsi. Hal ini penting, katanya, suami istri itu sebaiknya berkembang bersama. Secara pengetahuan dan materi. Ia pun menyarankan, agar pasangan suami-istri itu untuk membiasakan berbincang dalam berbagai hal, supaya ada kesamaan persepsi.

“Komunikasi itu antara empati dan asertif. Mengembangkan sikap kerjasama bagi rumah tangga. Muasyaroh bil ma’ruf. Kita bukan sehari-dua hari bersama pasangan. Harus ada upaya, harus ada kesengajaan membangun kebersamaan itu, merawat cinta itu. Merawat kebersamaan, merawat cinta kasih.” pungkasnya dalam seminar Parenting ke 13 YP Binaul Ummah Kota Psp ini. (san)

Bagikan: