Tobasa Layak Produksi Kolang-kaling

Bagikan:
Tampak sejumlah biji aren sebagai bahan baku makanan kolang-kaling di Tobasa.

MetroTabagsel.com – Salah satu kekayaan alam di wilayah Tobasa adalah buah kolang-kaling. Dimana, buah yang berasal dari biji pohon aren/enau ini tumbuh subur di daerah itu. Sayangnya, hingga saat ini belum ada usaha pengolahannya di Tobasa, sehingga tidak begitu diminati masyarakat, dan sebagian besar terbuang sia-sia.

“Buah kolang-kaling kita impor dari daerah tetangga, padahal sumber bahan bakunya sangat banyak di daerah kita ini. Sangat sayang selama ini tidak di olah, dan terbuang sias-sia,” tutur Bernard Sianipar (43) warga Balige, Minggu (27/1).

Menurutnya, dengan banyaknya pohon aren tumbuh di daerah itu, usaha produksi Kolang-kaling sangat cocok untuk dikembangkan. “Dimana rata-rata daerah di Tobasa ditemukan tumbuh pohon Aren,” katanya.

Hal yang sama juga diakui M Tanjung (54) warga Balige yang diwawancarai, beberapa waktu lalu. Pria yang sudah menekuni profesi sebagai pemanjat biji aren sudah hampir 15 tahun itu justru mengaku miris. “Biji aren dari kita, tapi yang menikmati justru orang luar,” katanya seraya menambahkan, selama menjalani profesinya dia hanya mendapat upah seadanya.

Menurutnya, berton-ton biji aren atau yang biasa dinamakan Halto di daerah itu dikirim ke pengusaha di Binjai, maupun Taput dan Humbahas. “Per tandan biji aren hanya dibayarkan kepada pemiliknya kisaran Rp40 hingga Rp100 ribu paling mahal. Padahal kalau kita sendiri yang mengolah jadi Kolang-kaling, pasti untungnya sudah lebih banyak,” paparnya.

Dia menerangkan, tidak semua biji aren baik diproduksi jadi kolang-kaling, sebab biji aren yang baik adalah biji aren yang tumbuh di daerah dingin, seperti halnya dari wilayah Tobasa. “Jadi biji aren diderah kita ini termasuk berkualitas baik,” paparnya.

Seputar cara pengolahan kolang-kaling, lanjutnya, biji  aren dibakar sampai gosong, kemudian buahnya dikeluarkan dan direbus selama beberapa jam. Kemudian, buah yang sudah direbus direndam dengan larutan air kapur selama beberapa hari hingga terpermentasi. Setelah itu, buah kolang-kaling layak saji sebagai makanan ringan dengan berbagai cara konsumsinya. (ft/rb)

Bagikan: