Stadium General IPTS Femina: Didiklah Anak Sesuai Fitrahnya…

Bagikan:
Direktur Eksekutif Kebijakan Publik MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia), Dr Hj Femina Sagita Borualogo MA menjadi Narasumber Stadium General Institut Pendidikan Tapanuli Selatan.

SIDIMPUAN – Direktur Eksekutif Kebijakan Publik MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia), Dr Hj Femina Sagita Borualogo MA menyampaikan agar sistem pendidikan yang diterapkan kepada anak sesuai dengan fitrahnya. Artinya, proses tahapan belajarnya disesuaikan sesuai dengan fitrah anak.

“OECD adalah Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan. Pada Bulan Desember 2001, OECD publikasikan hasil studi Internasional pertamanya, Finladia adalah negara dengan hasil tes PISA tertinggi. Artinya, kemampuan siswa Finlandia yang usia 15 tahun yang berhubungan dengan keterampilan membaca, matematika dan ilmiah, tertinggi dari semua 31 negara anggota OECD.

Sekarang pesertanya sudah 45 negara, termasuk Indonesia.

Hasil PISA test 2015 menunjukkan Indonesia dari 45 negara OECD yang memiliki kemampuan membaca, matematika dan ilmiah terendah. Dari 45 negara tersebut, Jepang peringkat ke-5 dan Indonesia peringkat ke-45,” kata Direktur Eksekutif Kebijakan Publik MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia), Femina Dr Hj Sagita Borualogo MA, saat menjadi Narasumber Stadium General Institut Pendidikan Tapanuli Selatan, Rabu (23/1) lalu.

Putri Almarhum Basyral Hamidy Harahap ini menyebutkan Hasil PISA bahwa Indonesia posisi terendah merupakan evaluasi bagi pemerintah dan jajaran pendidik di Indonesia. “Mari kita kupas satu saja dari tiga hal yang diujikan oleh PISA, yaitu kecerdasan literasi,” jelasnya.

Di Indonesia, masih penyampaian Femina, yang masih menjadi patokan penilaian tentang pendidikan adalah angka melek huruf. Begitu pula yang dikejar oleh dunia pendidikan usia dini, adalah calistung (Baca, Tulis, Hitung). Padahal yang dimaksud dengan kecerdasan literasi adalah kemampuan memahami tulisan dan kemudian mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Di Jepang, pendidikan untuk kecerdasan literasi dilakukan secara bertahap, dengan memperhatikan fitrah anak. Mulai bayi sudah dibacakan buku cerita, bahkan sejak dalam kandungan juga sudah mulai dibacakan. Karena proses belajar dimulai melalui pendengaran, lalu penglihatan,” sebutnya di acara Stadium General yang bertema Perbandingan Pendidikan Indonesia dengan Jepang.

Dikatakannya, Perpustakaan adalah sarana yang sangat ramai dikunjungi masyarakat Jepang. Sarana ini ada di hampir semua kelurahan, dan pasti ada di setiap kecamatan. Seorang anak yang baru lahir sudah berhak meminjam 14 buku.

“Seorang ibu Jepang akan meminjam buku sampai 14 untuk seorang anaknya dan akan selesai dibacakan hanya dalam hitungan hari,” paparnya.

Sementara Pendidikan di Indonesia lebih banyak menekankan teori. Anak-anak SD sudah diminta untuk menghafal Pancasila tanpa mereka paham tentang artinya. Tentu juga mereka sulit bisa mengaplikasikan kalau tidak paham artinya.

”Pendidikan di TK dan SD Jepang tidak ada sistem penilaian berupa angka, dan juga tidak ada sistem tinggal kelas. Ini membuat anak selalu bersemangat belajar, karena mereka tidak pernah merasa rendah diri. Pemberian angka yang jelek di rapor, dan sistem tidak naik kelas, bisa mematikan semangat belajar anak,” jelasnya.

“Usia SD adalah usia yang masih bisa berkembang dan menjadi lebih baik. Pendidik sebaiknya melihat sisi kelebihan si anak, dan terus menyemangati di sisi yang anak memang mampu. Dengan mengasah sisi yang dikuasai anak, sisi kekurangannya secara perlahan juga membaik,” tambahnya.

Pada saat seminar tersebut, dia juga memperlihatkan (Pemutaran video) usia 0, 1 dan 2 tahun di Daycare (tempat penitipan anak) Jepang, yang sudah melatih anak untuk makan sendiri.

“Video ini (dalam video, red) menunjukkan bagaimana tahapan belajar anak di Jepang yang difasilitasi oleh orang dewasa. Anak sejak bisa duduk, sudah dilatih memegang sendok sendiri dan makan sendiri, dengan duduk di kursi. Awalnya, di usia 9 bulan ke atas, mereka belum terampil menggunakan sendok, dan masih pakai celemek makan, Bu guru membantu menyuapi, tapi anak juga diberi sendok untuk latihan menyuap sendiri di piring kecil yang sudah disiapkan,” sebutnya.

“Di video usia 1 tahun terlihat semakin terampil. Di video usia 2 tahun, terlihat sudah tidak mengalami kesulitan menggunakan sendok, tapi masih berlatih untuk menggunakan garpu. Yang bisa diambil hikmah dari video tersebut, bahwa fitrah manusia pada dasarnya adalah menyukai belajar. Namun kenapa di Indonesia ada anak yang masih SD sudah tidak mau lagi sekolah? Jawabannya, bisa dilihat, apakah Pendidikan di Indonesia mengikuti fitrah perkembangan,” pungkasnya.

Intinya, kata Femina, pendidikan di Jepang memperhatikan fitrah perkembangan manusia, yaitu mengikuti tahapan proses dengan perlahan tapi pasti. Sistem pendidikan di Jepang yang ramah siswa ini, menghasilkan manusia berkualitas yang senang belajar dan berkarya.

“Ketika anak usia dini di Indonesia diajarkan calistung, di Jepang justru diajarkan tentang pembentukan karakter yang mandiri, berjiwa sosial, senang belajar, siap membantu. Sistem pendidikan di Indonesia khususnya di usia pra sekolah dan SD, kurang mengikuti fitrah perkembangan anak, sehingga bisa membuat anak tidak menyukai proses belajar,” jelasnya.

Dalam penyampaian tersebut, Femina menjelaskan Fitrah Manusia tersebut mulai dari Fitrah Keimanan, Fitrah Belajar dan Bernalar, Fitrah Bakat dan Kepemimpinan, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dan Cinta, Fitrah Estetika dan Bahasa, Fitrah Individualitas dan Sosialitas, serta Fitrah Fisik dan Indera. (bsl)

Bagikan: