Olah Lahan, Petani Andalkan Alsintan

Bagikan:
Petani andalkan alat mesin pertanian untuk mengolah lahan hingga siap tanam. (Amran Pohan)

TAPSEL – Saat ini, petani di Tapsel mulai gencar mengandalkan teknologi alat mesin pertanian (alsintan), terutama dalam pengolahan lahan. Manfaatnya begitu besar. Baik dari segi efisiensi waktu dan juga biaya yang relatif lebih murah, jika dibanding dengan cara manual.

Beberapa petani pada wartawan Selasa (15/1) menyampaikan, pengolahan lahan untuk pertanian basah (sawah) telah mengandalkan alat mesin. Karena, lebih cepat dan praktis. Sehingga, peralatan mesin pertanian saat ini sangat mendukung petani dalam meningkatkan produksi.

“Untuk mengolah lahan sawah, sudah sangat jarang menggunakan cangkul (manual), saat ini. Menggunakan mesin, lebih cepat, praktis. Ada penghematan waktu, dan biaya yang dikeluarkan relatif sama,” ucap Andi (35).

Adi Siregar (31) salah seorang pemilik alsintan menyebut, dalam sehari dibantu seorang temannya, bisa menyelesaikan pengolahan lahan sawah hingga siap tanam dengan luas sekitar 5 hingga 6 rante (1/5 hektare). Dan untuk pengolahan itu, membutuhkan 10 liter bahan bakar premium atau pertalite.

“Kami bisa menyelesaikan lahan dengan luasan sawah yang biasa menghasilkan gabah sekitar 100 kaleng hingga 120 kaleng,” sebutnya seraya merincikan, pembayarannya dibandrol dengan Rp4.000 per kaleng.

“Jika hasilnya biasanya 100 kaleng, maka upah untuk mengolah lahan itu hingga siap tanam dikalikan dengan 4000 rupiah,” terangnya.

Hal senada juga disebutkan Mangarahon (39). Dikatakan, sejak hadirnya teknologi berupa mesin pengolah lahan, petani di wilayah itu sangat terbantu. Dimana, melalui pengolahan lahan dengan menggunakan mesih jauh lebih efektip dan efisien, dari segi biaya maupun waktu.

“Hasilnya juga tidak ada pengaruhnya. Yang jelas petani sangat menyambut baik adanya teknologi dalam pertanian. Namun, pemerintah juga perlu membuat program untuk membantu kami petani agar mendapatkan bantuan alsintan,” ungkapnya.

Apalagi sambungnya, kehadiran mesih pengolah tanah, sangat mendukung program pemerintah menjaga kedaulatan pangan nasional.

Terutama di Kabupaten Tapsel, yang memiliki sekitar 85 persen warganya mengandalkan sektor pertanian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Mudah mudahanlah, program pengadaan bantuan alat pertanian terus digalakkan,” ucapnya.

Sebab, selain meningkatkan efesiensi dan efektivitas, pemanfaatan teknologi mesin pengolah lahan, juga mendatangkan pekerjaan baru bagi warga, dalam sehingga dapat menekan angka pengangguran. (ran)

Bagikan: