Menu

Benih Lokal Masih Jadi Primadona

Seorang petani sedang memilah bibit padi di sawah. Sementara itu petani di Kecamatan Sipirok masih mengandalkan benih lokal untuk pertanian mereka.

MetroTabagsel.com, TAPSEL – Petani di wilayah Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan (Tapsel) masih mengandalkan benih padi lokal pada musim tanam. Walau umurnya relatif lebih lama, namun petani masih tetap mengandalkan beni-benih seperti Silatihan, Siporang, Siiboto dan lainnya.

Menurut para petani, menggunakan jenis padi lokal diyakini lebih menjanjikan dari segi hasil, termasuk rasanya yang lebih enak dan aroma harum dengan harganya lebih tinggi.

Apalagi, benih lokal itu lebih sesuai dengan pola pertanian yang ada di wilayah itu selama ini, yaitu rata rata menerapkan Indeks Pertanaman sekali setahun. (IP-1)

Ahmad (40) salah seorang petani mengatakan, sekalipun usia padi lokal lebih lama dibanding benih padi unggul, namun warga di wilayah itu masih tetap mempercayai padi lokal untuk ditanami. “Alasannya karena sudah biasa dan harganya juga lebih tinggi,” ucapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Parlindungan (35), Nikmat Siregar (40) dan warga lainnya. Menurut mereka, kendati usia tanaman padi lokal mencapai 4,5 dan 5,5 bulan, namun karena perbedaan harga gabah dan beras yang cukup jauh, membuat petani dominan memilih jenis padi lokal.

“Padi unggul biasanya ditanam pada musim tanam kedua, tak semua lahan bisa ditanami, karena keterbatasan air,” ungkapnya.

Kondisi tersebut telah membuat HKTI Sumut bersama Dinas Pertanian Tapsel menunjukkan kepedulian pada jenis tanaman padi lokal yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dengan cara mengirimkan contoh jenis padi lokal tesebut ke BATAN untuk diteliti. Dan jika memungkinkan, secara genetik akan dipersingkat usianya hingga mempercepat panen. Dengan begitu, masyarakat petani akan tetap bisa menggunakan benih padi lokal yang lebih singkat usianya, sehingga menambah produksi dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Target Produksi 5,95 Juta Ton

Sementara itu Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menargetkan produksi padi di tahun 2018 sebanyak 5,95 juta ton dari sasaran di 2017 yang sebanyak 5,20 juta ton.

“Target produksi itu diyakini tercapai karena produktivitas diprediksi naik lagi,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, M Azhar Harahap di Medan, Senin lalu.

Pada angka tetap (Atap) 2016, produktivitas padi Sumut sudah mencapai 52,05 kwintal per hektare dari posisi 2015 yang masih 51,74 kwintal per hektare.

Adapun pada angka ramalan (Aram) II 2017, produktivitas padi Sumut sudah sebesar 51,47 kwintal per hektare.

Kenaikan produksi juga diperkirakan antara lain karena adanya harapan panen berlangsung bagus di tahun 2018.

Dia mengakui, sangat sulit untuk menambah areal baru untuk tanaman padi karena lahan kosong sudah sangat sulit diperoleh di Sumut.

“Bisa mempertahankan luas areal tanaman padi yang sudah ada saja hingga saat ini sudah sangat bersyukur,” katanya.

Menurut Azhar, dengan meningkatnya produksi padi lagi di tahun 2018, maka sumbangan swasembada Sumut ke nasional akan semakin besar.

Pada 2017, hingga Aram II, produksi padi Sumut sudah naik 11,23 persen dari Atap 2016 atau menjadi sebanyak 5,13 juta ton gabah kering giling (GKG). Produksi padi Sumut pada Atap 2016 masih 4,61 juta ton GKG .

Menurut Azhar, produksi padi Sumut yang naik di 2017 itu dipicu produktivitas hasil yang meningkat dan relatif kecilnya terjadi gagal panen padi di tahun lalu itu, meskipun banjir di beberapa daerah ada mengganggu panen dan penanaman. (ran/ant/int/hez)

  • Linkedin