Menu

Pencandu Narkoba Ngamuk, Klinik Rehab Dirusak

Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika Bhayangkara Indonesia (LRPPN BI) Jalan Budi Luhur, Gang PTP, Lingkungan VI, Kelurahan Sei Sekambing C II, Medan Helvetia, yang dirusak para pecandu.

MetroTabagsel.com – Bosan dengan menu sarapan ‘itu-itu saja’, puluhan pecandu narkoba penghuni Klinik Pratama Rehabilitasi Narkotika LRPPN Bhayangkara Indonesia di Jalan Budi Luhur, Medan Helvetia, mengamuk, kemarin.

Mereka membanting sejumlah barang seperti piring, meja, pintu kaca, dan lainnya. Setelah itu, mereka mendobrak pintu depan klinik dan melarikan diri.

Pantauan Sumut Pos (grup koran ini) di lokasi, pintu masuk Klinik Rehabilitasi Narkotika LRPPN BI itu ditutupi kain berwarna biru. Di depan pintu, sejumlah sepeda motor terparkir. Sejumlah pengurus klinik pun terlihat membersihkan barang-barang yang berserakan.

Seorang petugas keamanan di Klinik Rehabilitasi Narkotika LRPPN BI, Untung Wibowo ketika diwawancarai Sumut Pos mengungkapkan, kemarahan pasien di klinik itu dipicu menu sarapan yang itu-itu saja. “Pemicunya hanya masalah makanan. Mereka mau sarapan tadi. Cuma sarapannya itu minta diganti. Namun belum bisa kita gantikan menunya. Sudah itu, karena ada provokator,” ugkap Untung.

Ditanya lebih spesifik menu makanan yang menjadi pemicu kemarahan para penghuni klinik rehabilitasi, Untung enggan mengungkapnya secara jelas. Karena menu itu-itu saja, lanjut Untung, para pasien rehabilitasi meminta ikan terinya diperbanyak. Namun, pengurus klinik meminta agar pasien bersabar.

Nah, saat itulah seorang pasien memprovokasi rekan-rekannya, sehingga kemarahan membuncah. Mereka membanting piring, meja, dan merusak pintu kaca. Kemudian mereka mendobrak pintu depan klinik dan melarikan diri.

“Tidak ada petugas kita yang luka. Mereka tidak sempat menyerang. Kebetulan saya tadi turun tangan langsung ke tengah kerumunan mereka. Namun, memang kalau mereka mau berbuat bagaimana-bagaimana, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkapnya.

Ditanya soal tindakan refresif, Untung mengaku tidak boleh dilakukan. Hal itu dikarenakan para penghuni klinik masih dalam masa pengobatan. Menurut Untung, klinik rehabilitasi ini ibarat rumah sakit untuk menyembuhkan. Selain itu ditegaskannya, para penghuni klinik rehabilitasi bukan tahanan, melainkan pasien.

Pihak klinik, kata Untung, masih mendata berapa persisnya penghuni panti yang kabur. Pihaknya hanya berkoordinasi dengan pihak keluarga. “Mereka ini ‘kan bukan tahanan. Jadi kita koordinasi ke keluarganya dan sudah ada yang menghubungi kami untuk menjemput anaknya kembali,” jelasnya.

Untuk kerusakan, Untung seakan tidak ingin mengungkapnya. Namun ketika ditunjuk sejumlah barang yang rusak, Untung mengakui ada barang rusak, hanya meja dan piring. Saat ditanya apakah masalah perusakan barang akan dibawa ke jalur hukum, dia mengaku tidak tahu. Begitu juga dengan jumlah kerugian, Untung juga mengaku belum mengetahui karena belum dihitung.

“Untuk yang lari belum bisa dideteksi. Kalau penghuni total ada 71 orang untuk mengikuti program rehab kita selama 6 bulan. Untuk penghuni yang lari, ada yang sudah 3 bulan di sini,” ujarnya.

Terakhir, Untung mengaku jika Klinik Rehabilitasi Narkotika LRPPN BI berkerjasama dengan seorang Pejabat Mabes Polri, Jhon Hendrik yang dulu di Divisi Hukum Mabes Polri. Saat ini, disebutnya Klinik Rehabilitasi LRPPN BI dipimpin seorang wanita bernama Riska dan Klinik ini sudah berjalan 2 tahun.

Seorang pria yang sedang duduk di sebuah warung, tepat di depan klinik rehabilitasi narkotika LRPPN BI mengaku sempat mendengar suara keributan. Baik itu teriakan kemarahan ataupun suara bantingan dan pecahan sejumlah barang. Begitu juga dengan gerbang utama klinik, diakui pria itu sempat bergoyang kencang, hingga pada akhirnya penutup gerbang terlihat berpecahan.

“Mereka keluar dari pintu Pos Satpam itu. Mereka berpakaian cukup rapi. Untuk usia, rata-rata di atas 20 tahun dan 30 tahun. Mereka berjalan kaki ke arah pasar Sei Sikambing lalu mereka naik becak, ” ujarnya.

Untuk jumlah, pria yang enggan menyebut namanya itu mengaku tidak tahu pasti. Namun, diperkirakan sekitar 30-an. Disebutnya, sejak panti rehabilitasi itu berdiri, baru kali pertama kejadian seperti ini.

Tristan, warga lainnya menyebutkan, para pekerja klinik dibantu warga berusaha mengejar para pasien rehabilitasi yang melarikan diri. Namun, mereka tak bisa berbuat banyak karena para pasien sudah berbaur dengan warga. Apalagi, pakaian yang mereka kenakan mirip dengan seragam mahasiswa salah satu perguruan tinggi tak jauh dari lokasi. “Waktu mereka kabur, tak jauh dari panti lagi banyak anak kampus yang baru pulang ujian. Jadi mereka pakai seragam hitam putih. Begitu juga dengan para penghuni panti yang juga menggunakan pakaian seragam hitam putih,” ungkap Tristan.

Menurutnya, para pasien yang melarikan diri itu juga terlihat seperti sudah terkoordinasi. Mereka berlarian ke arah yang sama sebelum akhirnya menyebar dan menghilang dalam kerumunan warga. “Seperti ada mengkomandoi,” tegas Tristan.
Kapolsekta Helvetia, Kompol Trila Murni yang ditemui di lokasi panti, membenarkan bahwa penyebab mengamuknya penghuni panti karena persoalan makanan. “Kita masih melakukan pendataan. Berapa yang lari dan berapa yang kembali.

Kalau kerusakan, hasil pengecekan kita, pintu kaca pecah, piring-piring berserakan. Kita masih melakukan proses lidik, apa yang menyebabkan ini semua, ” ungkap Kompol Trila Murni.

Dia mengatakan, pengurus panti sudah berkoordinasi dengan keluarga pasien yang kabur. “Bukan kapasitas kita yang menjemput. Pihak pengurus panti sudah berkoordinasi dengan keluarga pasien. Sebagian sudah kembali,” sebutnya.

Disinggung apakah ada penyalahan SOP dari pihak panti rehabilitasi, dikatakan Trila Murni sudah sesuai SOP. Disebutnya, hanya saja harus ekstra hati-hati dalam menangani mereka yang kena penyalahgunaan narkoba dan mengetahui bagaimana selera penghuni panti.

Mengenai jumlah pasien yang kabur, menurut Trila hingga Selasa malam, setidaknya 35 pasien dari 70 yang direhab. “Tadi sudah ada yang kembali 6 orang kalau laporan dari anggota kita di lapangan. Jadi memang masalahnya sih sepele. Ya tahu sendiri kan bagaimana orang direhab,” sebut Trila.

Polisi sudah mengamankan sejumlah barang bukti dari TKP, termasuk rekaman CCTV. “Untuk kasus perusakannya belum ada laporan dari pengurus panti, tapi CCTV sudah kita amankan,” terang Kapolsek. (ain/dvs/adz/smg)

  • Linkedin
Loading...