Menu

Balada Sangge-sangge, “Bukan Tentang Rasa Lebih Kepada Aroma”

Ilustrasi
Ilustrasi

MetroTabagsel.com, TOBASA – Bukan tentang rasa, tapi lebih kepada aroma yang khas. Begitulah deskripsi seorang ibu di bonapasogit (sebutan tanah kelahiran untuk orang Batak), Balige, tentang sangge-sangge. Tanpa sangge-sangge, aroma masakan khas Batak sepertinya kurang pas.

Tanaman dengan nama nasional “serai” ini pun hal yang jarang luput dari masakan olahan tangan-tangan ajaib kaum ibu di Kabupaten Tobasa. Seperti penuturan S br Rajagukguk (56), seorang ibu rumahtangga ketika ditanyai New Tapanuli seputar sangge-sangge di Pasar Balige, Selasa (10/10).

Dikatakan, untuk jenis makanan kebanggaan orang Batak, seperti arsik, saksang dan gulai ikan, sangge-sangge sangat penting. Kalau tidak pakai sangge-sangge, aroma masakan sepertinya kurang pas, sama seperti fungsi halas (lengkuas), meski porsinya tidak cukup banyak untuk sebuah masakan. Sebab, bila berlebihan akan membuat rasa makanan menjadi pahit.

Dan, kepahitan itu juga menerpa dua anak manusia, yang tak lama lagi menjalani bahtera rumah tangga, tapi mendadak kandas dipicu oleh perseteruan calon menantu dan calon mertua, yang di kalimat-kalimat perseteruan itu tersebut kata “sangge-sangge”.

Cerita ini pun viral di jejaring sosial Facebook, khusunya di komunitas orang Batak. Sejak itu, kata “sangge-sangge” sangat populer.

Bully, simpatik dan berbagai ekspresi lainnya tertumpah dari jutaan netizen terkait perseteruan ini. Keusilan dan kreativitas yang patut diacungi jempol, juga banyak tercipta.

Di Facebook, banyak komentar dan status usil yang dikait-kaitkan dengan sangge-sangge. Ada juga video lucu karya pemilik akun Jhonrikson Pangaribuan berjudul “PERCAKAPAN CALON PARUMAEN DAN CALON SIMATUA LEWAT TELPN YG BERUJUNG CEK COK” yang telah dibagikan 15.598 kali.

Lagu-lagu juga banyak tercipta. Seperti lagu berjudul “Songon Bulung Ni Sangge-Sangge” karya Erwin Sihite yang dibagikan oleh pemilik akun Ardiles Tumanggor.

Ada lagi “Setipis Bulung Sangge-sangge” karya Herman Sihotang dan Herianto Sihotang yang sudah mendapatkan 1.086 tayangan. Dan, ada banyak lagi lagu-lagu yang tercipta yang dilatarbelakangi cerita bulung sangge-sangge itu.

Mudah Ditemukan
Di Tobasa dan sejumlah daerah di Sumatera Utara, sangge-sangge ini mudah dicari, mudah tumbuh dan berkembang serta tidak perlu perawatan. Harganya tergolong murah. Seperti di Pasar Balige, untuk 4 batang sangge-sangge dihargai Rp2 ribu.

Selain sangge-sangge, halas dan andaliman juga sangat penting dalam masakan. “Masakan itu bukan hanya perlu rasa yang pas, tetapi aroma juga sangat penting yang dapat menambah selera makan,” ungkap S br Rajagukguk.

Selain bumbu makanan, sangge-snagge belakan ini juga digunakan sebagi pewangi minuman. Seperti di Tobasa, sejumlah warung makanan menyajikan teh dengan sangge-sangge.

Dikutip dari internet, sangge-sangge tenyata mempunyai manfaat sebagai obat remedi atau obat herbal sebagai alterntif pemakaian obat-obat berbahan kimia. Jadi, untuk orang Batak, ada baiknya menanamnya di kebun atau di pekarangan rumah kita untuk mempermudah mengunakannya saat dibutuhkan.

Adapun beberapa manfaat sangge-sangge yang dihimpun dari berbagai sumber, memiliki khasiat meredakan gejala batuk atau iritasi tenggorokan. Sangge-sangge mengandung minyak atsiri yang memberikan kehangatan untuk tubuh saat dikonsumsi. Zat ini bermanfaat menentralkan peradangan di tenggorokan. Sangge-sangge juga mampu meredakan gejala rematik. Membantu maslaah kewanitaan, meredakan asam urat dan banyak khasiat lainnya. (ft/ara)

  • Linkedin