Menu

Usaha Kerupuk Banjar Kobun Perlu Pengembangan

Samman Siahaab/ Metro Tabagsel
Lopek atau Bahan Kerupuk Setengah Jadi, saat dijemur sebelum dijual di Banjar Kobun, Lingkungan I, Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan Kota.

MetroTabagsel.com, MADINA – Kerupuk Banjar Kobun, diproduksi secara rumahan di Lingkungan I, Banjar Kobun, Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Madina.

Kerupuk mentah yang berbahan dasar singkong ini sudah berproduksi dari puluhan tahun silam oleh warga setempat.

Saat ini, sebanyak 35 rumah tangga yang membikin kerupuk yang masih diperdagangkan secara masing-masing oleh produsennya sendiri di pasar-pasar tradisional.

Menilik cara pembuatannya, meski berbahan dasar singkong, pembuatan kerupuk ini tidak se-sederhana yang dibayangkan. Dan untuk menghasilkannya juga memakan waktu minimal dua hari.

Dimulai dengan mencacah singkong yang telah dikupas hingga membentuk bubur, bahan dasar ini kemudian ditiriskan sehingga air singkong mengering dari bubur singkong. Sebagai tambahan, pada bubur singkong akan diberi perwarna makanan, garam dan ragi.

Usai adonan itu diaduk sesuai dengan takarannya, proses selanjutnya akan memasukkan adonan ke dalam plastik yang biasa digunakan pada minyak curah, dengan ukuran sesuai dengan kebutuhan besaran kerupuk.

Pada tahap ini, para pelaku usaha mikro ini akan menyiapkan tong yang diisi air sebagai tempat menanak adonan bahan kerupuk yang telah dibungkus dalam plastik itu. Pada tahap penanakan ini akan memakan waktu minimal 6 jam.

Setelah matang, kerupuk setengah jadi ini disebut sebagai Lopek. Bahan ini akan dikeringkan setelah dikupas dari plastik pembungkus. Sampai di tahap ini, selanjutnya akan menjalani proses penjamuran hingga dua hari lamanya.

Setelah jamur yang berfermentasi seluruhnya keluar, maka Lopek atau bahan setengah jadi kerupuk ini akan dibersihkan hingga benar-benar bersih. Dari sini, lopek akan diiris-iris tipis lalu dikeringkan pada bawah sinar matahari.

Disini, setelah kering tahap produksi sebenarnya sudah tuntas, produsen kerupuk Banjar Kobun ini mulai menyebar memasarkan kerupuk buatannya masing-masing. Namun, banyak juga pelanggan yang secara langsung datang membeli ke rumah-rumah pelaku usaha.

“Kalau pembeli dating langsung ke rumah, kami nggak jadi jualan ke pasar,” kata Ucok kepada Metro Tabagsel.

Untuk harga jual, rumah tangga produsen kerupuk lainnya, Piah menuturkan, dalam satu tabung isi 5 liter, kerupuk ukuran kecil dijual Rp 7.500. Kerupuk ukuran besar dijual Rp400 per biji.

Namun dari 35 rumah tangga produsen kerupuk, banyak dari mereka terkendala pada modal produksi. Kerupuk banjar kobun produksi Banjar Kobun, Kelurahan Panyabungan II ini sebenarnya sudah mahsyur. Akan tetapi pada pengembangannya masih stagnan, karena terkendala pada pembinaan dan modal perluasan pasar.

“Kalau banyak diproduksi kemana dijualkan? Kemudian modalnya didapat darimana kalau bukan dari Koperasi. Hanya koperasi ajalah,” pungkas Bujing, Rabu (13/12). (san)

  • Linkedin
Loading...