Menu

Kepala Polisi Dipenggal Militan

Ilustrasi
Ilustrasi

MetroTabagsel.com, FILIPINA – Pasukan Filipina berusaha mengambil kembali Kota Marawi, Provinsi Lanao del Sur, Kepulauan Mindanao, dari tangan militan Abu Sayyaf dan Maute. Kemarin, dua helikopter tempur dikerahkan ke kota berpenduduk mayoritas muslim itu. Bom-bom di jatuhkan untuk memukul mundur dua kelompok militan yang mendukung Islamic State (IS) alias ISIS tersebut.

“Berdasar intelijen kami, Isnilon Hapilon masih berada di kota itu,” papar Juru Bicara Militer Marawi Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera. Hapilon adalah pentolan Abu Sayyaf yang diklaim sebagai pemimpin ISIS Asia Tenggara. Di darat ada sekitar 100 tentara yang diterjunkan untuk merebut kembali Marawi. Berdasar pengamatan jurnalis AFP yang berada di lokasi, baku tembak terdengar sepanjang hari. Bom-bom juga dijatuhkan di permukiman penduduk.

“Kami meminta penduduk Marawi untuk pergi ke tempat yang aman atau tetap berada di dalam rumah saja,” tegas Herrera. Pemerintah lalu mengirimkan truk-truk untuk mengevakuasi warga yang masih berada di kota berpenduduk sekitar 200 ribu jiwa itu. Ada ratusan penduduk sipil, baik dewasa maupun anak-anak, yang berlindung di kamp militer di Marawi kemarin.

Proses evakuasi memang tidak perlu dilakukan secara besar-besaran. Sebab, ribuan warga Marawi sudah tidak berada di kota tersebut. Mereka mengungsi ke Kota Iligan, Rabu (24/2), sehari setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte menerapkan status darurat militer di seluruh Kepulauan Mindanao. Hanya sebagian kecil penduduk yang masih bertahan di rumah masing-masing. Pada hari yang sama dengan eksodus penduduk itu, militan ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan Maute di Marawi melalui kantor berita Amaq.

Anggota militan yang masih bertahan di Marawi sebenarnya hanya 30–40-an orang. Namun, sulit menaklukkan mereka. Anggota militan yang masih tersisa dengan mudah bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya untuk menghindari maupun menyerang balik pasukan Filipina. Sebab, Provinsi Lanao del Sur merupakan basis militan Maute. Mereka sudah mengenal betul seluk-beluk setiap kota, termasuk Marawi.

Bukan hanya itu, militan juga menanam belasan hingga puluhan bom di berbagai titik. Terutama di jalan-jalan utama. Lebih dari 20 penduduk sipil masih menjadi sandera. Karena itu, pasukan Filipina harus lebih berhati-hati dan menahan diri. Maute menyandera Pastur Chito Suganob, 10 jemaat, 3 pegawai Gereja Saint Mary, dan 8 orang penduduk setempat. Hingga kemarin, belum diketahui nasib para sandera tersebut.

Jumlah korban jiwa juga masih simpang siur. Kantor berita Reuters menyatakan, ada sebelas penduduk sipil yang menjadi korban. Maute membuat pos-pos penjagaan dan membantai sembilan warga. Berdasar siaran televisi lokal GMA, tampak sembilan jenazah dengan tubuh penuh lubang bekas ditembus peluru digeletakkan di lapangan. Tangan mereka terikat. Dua penduduk sipil yang lain dibunuh di Amai Pakpak Hospital.

Korban itu belum termasuk 5 tentara dan 2 polisi yang tewas pada dua hari pertama pertempuran. Selain itu, Kepala Polisi Malabang yang dipenggal kepalanya. Dari kelompok militan, korban jiwa hingga kini 13 orang.

Pertempuran di Marawi dimulai dari serangan untuk menangkap Komandan Abu Sayyaf Isnilon Hapilon, Selasa (23/5). Militer percaya diri bisa menangkap Hapilon karena dia jauh dari markasnya dan mayoritas anak buahnya bersembunyi di pegunungan. Namun, Abu Sayyaf berhasil meminta bantuan dari kelompok Maute. Saling tembak pun terjadi. (jpg)

  • Linkedin