Menu

Cerita Haru Perempuan Paruh Baya Kala Jumpa JR Saragih

JR Saragih bersalaman dengan Juniarti.
Tonggo Sibarani/Metro Siantar
JR Saragih bersalaman dengan Juniarti.

MetroTabagsel.com, SIMALUNGUN – “Alhamdullilah, Bapak JR Saragih mau membantu anak saya,” ucap Juniarti Ibunya Kandung Muhammad Saudi anaknya yang mengidap Epilepsi. Ucapan syukur inilah yang muncul dari perempuan paruh baya saat berjumpa bertemu dengan Bupati Simalungun JR Saragih.

Kehadiran Bupati Simalungun JR Saragih di Tapian Dolok selalu memberikan kejutan maupun tangan terbuka bagi siapapun yang dibutuhkan apalagi saat melakukan pelayanan kepada masyarakat.

Dengan wajah bersedih dan selalu menangis ini seraya ingin mendapatkan bantuan dari orang nomor satu di Kabupaten Simalungun tersebut. Ternyata, rasa tak kenal lelah ada dalam diri istri Suhardi yang terus mengejar JR Saragih guna mendapatkan pertolongan buat kesembuhan anaknya Muhammad Saudi.

“Dari awal tahun saya selalu mencari Bapak JR Saragih, anak saya (Muhammad Saudi) menderita Epilepsi saat baru lahir. Saya enggak tahu lagi harus mencari kemana lagi buat kesembuhan anak saya ini,” ungkapnya sambil menangis di Tapian Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, belum lama ini.

Sambil menangis, Juniarti pun berbagi cerita perihal penyakit epilepsi yang diidap anaknya tersebut. Kala itu di usianya baru menginjak dua bulan, Muhammad Saudi yang lahir kembar ini menderita kejang-kejang dan panas tinggi.

“Saat itu saya lahir kembar, Muhammad Saudi lahirnya belakangan. Kala itu, saya lahir di bidan. Setelah lahir Muhammad Saudi tidak mengeluarkan tangisan, saya panik dan dibawa ke RS Horas Insani. Sesampainya di sana, dokter menyarankan harus rawat inap dan di inkubator selama dua bulan,” urainya sambil mengusap air mata.

Selama di rumah sakit, perempuan berjilbab ini seperti disambar petir. Bagaimana tidak, dokter pun mengatakan bahwa putera kelahiran 8 Maret 2008 ini mengidap Epilepsi. Meski dilanda kesedihan, dirinya terus berjuang demi membuat sang anak sembuh.

“Siapa sih yang tidak sedih, hati saya ini seperti disayat saat mendengar anak saya mengidap Epilepsi, awalnya dokter bilang bahwa anak saya kekurangan oksigen inilah yang membuat lahirnya lebih lama satu jam dari anak yang pertama. Hancur hati saya mendengarnya,” bebernya lagi.

Perjuangan untuk membuat anaknya terus sehat telah dilakukannya. Bahkan, lebih dari delapan dokter yang dijumpainya mulai dari di Siantar hingga ke Medan sekaligus. Pada akhirnya di tahun ketiga, biaya yang dimilikinya sudah tidak ada lagi, harapan untuk menyembuhkannya pun pupus sudah.

“Saat dana tidak ada lagi, saya hampir menyerah seperti enggak tahu lagi harus berbuat apapun. Sampai akhirnya, saya baca koran, menonton di televisi sampai ada saudara dan kerabat saya bilang “kenapa tidak menjumpai Bapak JR Saragih, dia kan suka bantu orang-orang yang kesusahan”. Dari situlah harapan saya langsung bangkit buat kesembuhan anak saya ini,” paparnya.

  • Linkedin