Menu

Seni Pembelajaran Revitalisasi Kejayaan Mandailing

Ilustrasi

Mandailing negeri gordang sambilan mempunyai segudang sejarah yang harus kita selami dan hayati bersama. Banyak tokoh-tokoh besar yang lahir dari Mandailing seperti Jenderal Abdul Haris Nasution, Willem Iskandar, K.H. Zainul Arifin Pohan, Sutan Mangkutur, Syekh Musthafa Bin Husein Al- Mandailiy dan sederetan mana besar lainnya telah mengangkat dan mengharumkan Mandailing.

Oleh; MARZUKI AHMAD & HERI EFFENDI

Pada masa pra-Islam, Mandailing merupakan pusat peradaban di Sumatera Utara. Institusi Kuria sebagai sistem pemerintahan telah berkembang jauh sebelum datangnya Islam, tatkala pentingnya  bahasa, sastra, arsitektur dan teknologi tekstil merupakan aset berharga kebudayaan Mandailing dahulu kalanya.

Masuknya pengaruh Islam di Mandailing pada abad ke-XVIII melalui kontak langsung dengan para ulama-ulama sufi dan serangkaian Perang Paderi yang pada gilirannya menjadikan Mandailing sebagai dua kekuatan integral ibarat ”dua sisi mata uang” adat dan agama merupakan onderdil masyarakatnya.

Di satu pihak, munculnya gerakan reformasi telah mengukuhkan institusi Kuria sebagai sistem pemerintahan, tetapi di pihak lain telah mengembangkan pendidikan formal, seperti lahirnya madrasah/pesantren khas tradisional yang mengandung makna indogenius di Mandailing telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, mentransfer ilmu-ilmu keislaman, dan memelihara tradisi keislaman.

Lahirnya ulama-ulama besar Mandailing produk ala pesantren seperti Tuan Syekh Abdul Malik, Syekh Sulaiman Al- Kholidy, Syekh Abdul Hamid, Syekh Junied, Tuan Syekh Mahmud, Tuan Syekh Haji Muhammad Hasan Lubis, mereka semua lahir dan dibesarkan di tanah Mandailing. Dimana dakwah dan kiprahnya telah mengangkat Mandailing ke puncak kejayaan dan juga peranannya dalam kancah pergerakan nasional menghalau kaum kulit putih/penjajah di tanah mereka sendiri. Spirit perjuangan ini harus di ungkap untuk menyadarkan generasi muda hari ini (Pangaduan Lubis, 2010:57-63).

Di era globalisasi sekarang ini, seluruh aspek kehidupan yang serba terbuka tanpa terkendali dan kurangnya filterisasi, mengakibatkan masyarakat Mandailing terbawa arus kebebasan yang lebih berorientasi pada individualisme dan materialisme serta mulai melupakan kegiatan-kegiatan gotong royong yang terdapat dalam budaya lokal. Bahkan tidak sedikit kearifan lokal masa lalu dari nenek moyang bangsa ini terkesan hanya sebatas warisan historis semata.

Sistem nilai dan norma sosial tersebut sudah diwariskan puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu yang menjadi sistem nilai bagi daerah setempat. Walau pahit harus diakui, di Mandailing sekarang paceklik tokoh pemikir, ulama, serta budayawan.

Ada benarnya Sutan Parhulutan Nasution & Hasan Arifin Nasution sebagai Pengetua Adat Mandailing mengatakan bahwa para intelektual idealis seperti nama-nama diatas tidak lagi lahir di Mandailing. Eksistensi bagas godang dan sopo godang sebagai lambang masyarakat beradat semakin kehilangan pesonanya.

Padahal, dulunya keberadaan bagas godang merupakan lambang masyarakat beradat ikut membawa Mandailing pada puncak kejayaannya.

Namun sekarang, pesona bagas godang dan sopo godangseakan mulai pudar akibat terombang-ambing dari pengaruh budaya global. Tentunya jika melihat fenomena tersebut merupakan ancaman serius bagi disintegrasi kearifan lokal Mandailing.

Matematika Dalihan No Tolu

Dalam sistem kekerabatan budaya Mandailing, secara fungsional ditata dengan sistem kekerabatan Dalihan No Tolu. Dalihan No Tolu merupakan tiga unsur yang disebut kahanggi (teman semarga), anak boru (pihak pengambilan istri), dan mora (pihak pemberi istri).

Bagi masyarakat Mandailing, Dalihan Na Toludapat membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang ideal. Masyarakat yang ideal menurut Mandailing adalah masyarakat yang di dalam interaksi sosialnya ditemukan holong (kasih sayang).

Holong dijadikan sumber semua kehidupan. Karena itu ada istilah dalam Mandailing: holong do mula ni ugari (kasih sayang awal dari adat), atau holong do maroban domu, domu maroban parsaulian (kasih sayang membawa keakraban, keakraban membawa kebaikan bersama).

Melalui riset dilapangan, penulis pernah mengkombinasikan pembelajaran Matematika dengan pembelajaran Sejarah Kebudayaan dengan menerapkan prinsip Dalihan Na Tolu. Dimana dalam kegiatan inti, proses pembelajarannya terdapat apersepsi budaya Mandailing yakni pemberian masalah yang berupa soal-soal Matematika yang terkait dengan kehidupan berbudaya siswa dalam budaya Mandailing melalui Lembar Aktivitas Siswa (LAS), diskusi kelompok berazaskan Dalihan Na Tolu,presentasi hasil karya dan menyimpulkan.

Secara umum pembelajaran matematika realistik berbasis budaya Mandailing dilaksanakan dengan  cara siswa belajar dengan berkelompok yang beranggotakan 5-6 orang.

Dalam pelaksanaannya setiap kelompok yang ada berperan sebagai suhut, anak boru, dan mora. Dengan adanya perluasan Dalihan Na Tolu maka terdapat anak boru dari anak boru (pisang raut), mora ni mora (mora dari mora) dan barisan kahanggi dari pihak suhut.

Sesuai dengan budaya Mandailing, masing-masing komponen yang terdapat pada Dalihan Na Tolu tersebut mempunyai tugas yang sama yang meliputi tugas utama dan tugas tambahan (khusus).

Tugas utama dalam pembelajaran yang dilakukan adalah memecahkan keseluruhan permasalahan yang diberikan dengan pembagian tugas (masalah) yang sama rata.

Selanjutnya terdapat tugas khusus yaitu suhut menerima permasalahan (LAS) dari guru dan membagi permasalahan yang akan dipecahkan, anak boru bertugas mempresentasikan hasil karya, dan mora menyampaikan kesimpulan.

Dari penelitian ini, diperoleh data 98,79% siswa senang terhadap komponen pembelajaran yang diterapkan, 93,33% siswa merasa baru terhadap komponen pembelajaran yang diterapkan, 100% siswa berminat untuk mengikuti pembelajaran untuk pembelajaran berikutnya. Selanjutnya 100% siswa paham/tertarik LAS yang diberikan. Dan secara keseluruhan  98,03% siswa memberikan respon positif dan 1,97% siswa memberikan respons negatif. Dengan demikian disimpulkan siswa memberi respons positif terhadap pembelajaran Matematika realistik berbasis budaya Mandailing yang diterapkan.

Akhirnya, melalui serangkaian usaha mulia ini menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis ketika melihat respons siswa yang sangat antusias mengikuti pembelajaran, artinya semakin terasa arti penting sebuah peran guru untuk berinovasi dalam berbagai hal terutama pembelajaran.

Tentunya juga diharapkan sebagai bentuk usaha dalam membendung arus budaya global demi mempertahankan budaya lokal dengan memberikan arah baru bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan dan kejayaan Mandailing kedepannya melalui pembelajaran di lembaga pendidikan. (*)

Penulis adalah Dosen Institut Pendidikan Tapanuli Selatan, Kota Padangsidimpuan.

  • Linkedin