Menu

Urgensi Literasi Media Sosial

  • Linkedin
Ilustrasi

Tulisan ini sebagai respon atas banyaknya kasus penyalahgunaan media sosial yang menimpa masyarakat di Indonesia. Tidak hanya dari kalangan biasa, para artis juga turut menjadi sumber pelanggaran etika di media sosial.

Oleh Muhammad Irsan Siregar

Beberapa kasus yang sampai mencuat ke pemberitaan media seharusnya bisa menjadi cerminan bagi kita bahwa penggunaan media sosial harus dilakukan secara arif dan bijaksana.

Menurut penulis, ada berbagai macam pelanggaran-pelanggaran etika di media sosial, yaitu: Menyebarkan berita hoax, pencemaran nama baik, membully di media sosial, berjudi/taruhan di media sosial, mengumpat dengan perkataan kasar untuk meluapkan amarah,berbagi foto tidak senonoh, penipuan belanja online, sindiran berbentuk meme yang isinya menghujat, melecehkan,dan merendahkan, dsb.

Ketiadaan literasi media sosial di tengah tingginya pertumbuhan pengguna internet yang mencapai 132,7 juta di Indonesia menjadi salah satu penyebab banyaknya pelanggaran etika di media sosial.

Hal ini harus diantisipasi dikarenakan pelanggaran etika di medsos sudah menjadi isu utama yang harus dicari jalan keluarnya. Untuk itu literasi media sosial sangat penting diajarkan, disosialisasikan dan dipahami oleh setiap orang, agar setiap orang yang memiliki media sosial bisa menggunakannya secara arif dan bijaksana.

Sayangnya Pemerintah Indonesia tidak memiliki kurikulum standar mengenai literasi media sosial. Faktanya saat ini pendidikan literasi media yang ada di Indonesia, masih sebatas gerakan-gerakan yang belum terstruktur.

Gerakan-gerakan tersebut dilakukan melalui seminar, roadshow, dan kampanye-kampanye mengenai literasi media sosial. Literasi media sosial tidak cukup bila disampaikan hanya dalam seminar berdurasi dua jam, atau dalam kampanye selama seminggu. Akibatnya, upaya-upaya memperjuangkan pendidikan literasi media sosial belum dapat dirasakan oleh semua pihak secara luas.

Di banyak negara maju, pendidikan literasi media sudah menjadi agenda yang penting dengan memasukkannya ke dalam satuan kurikulum pendidikan. Inggris, Jerman, Kanada, Perancis dan Australia merupakan beberapa contoh negara yang telah melaksanakan pendidikan literasi media di sekolah.

Permulaan abad 21 menandakan perkembangan minat terhadap pendidikan media di beberapa negara. Literasi media ini dibangun sebagai alat pendidikan untuk melindungi orang-orang dari dampak negatif media. Di tahun 1930, Inggris merupakan negara pertama yang memunculkan isu mengenai literasi media. Sedangkan pada tahun 1960, Kanada memulai pendidikan literasi medianya.

Kanada merupakan negara yang mewajibkan literasi media di kawasan Amerika Utara. Setiap Provinsi di negara tersebut telah ditugaskan untuk melaksanakan pendidikan media dalam kurikulum. Peluncuran pendidikan literasi media dilakukan karena rentannya masyarakat Kanada terhadap budaya pop Amerika.

Konsep literasi media menjadi topik pendidikan yang pertama kali muncul di Kanada pada tahun 1978. Amerika Serikat juga akhirnya menyadari pentingnya terdapat pendidikan literasi media di negaranya.

Berkaca dari pengalaman negara-negara maju, sudah saatnya Pemerintah Indonesia memiliki kurikulum literasi media sosial berbasis norma-norma kebangsaan yang selalu menjadi ajaran teguh nenek moyang kita seperti: Semangat gotong royong, sopan terhadap orang yang lebih tua, menghormati orang yang lebih muda, bertenggang rasa, tolong-menolong, dsb sebagai dasar bahwa pengguna media sosial di Indonesia bisa lebih mencerminkan adab orang Indonesia sebagai orang ketimuran. (*)

Penulis adalah Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid Tapanuli Selatan.

  • Linkedin
Loading...