Menu

Jualan Sabu Demi Kuliah Anak di Kedokteran, Sedih, Menangis

Tersangka saat ditahan
Tersangka saat ditahan

MetroTabagsel.com – Wayan Hasan Basri, seorang supir nyambi jualan narkoba demi membiayai anaknya yang kuliah di Fakultas Kedokteran. Kini, Warga Kepaon, Denpasar Selatan, Bali, itu harus menjalani hari-harinya di balik jeruji Mapolresta Denpasar, Bali.

Dia ditangkap pada Kamis (7/9) sekitar pukul 23.30 WITA. Langkahnya ragu, tanpa alas kaki berjalan menuju ruang Kasat Resnarkoba Polresta Denpasar beberapa hari lalu.

Dengan memakai kaos putih tipis, tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Terlihat pasrah saat salah seorang petugas kepolisian menggiringnya.

“Saya saat itu akan menempel (menjual, red) sabu. Awalnya saya dikasih 25 paket namun sudah banyak yang tertempel dan masih sisa 13 paket yang saat itu akan saya tempel di wilayah Sesetan,” pengakuannya.

Pekerjaannya sebagai supir pariwisata freelance dengan penghasilan yang dirasanya cekak membuatnya harus banting setir mencari sumber penghasilan lain.

Apalagi tagihan kuliah anak pertamanya yang sudah semester IV di salah satu Fakultas Kedokteran di Surabaya mulai membengkak.
Istrinya bekerja membuka salon kecil-kecilan di rumah. Dan keduanya menghidupi dua orang putri cantiknya.

“Penghasilan saat ini sangat minim. Kalau sepi ya kisaran Rp5 juta-an sebulan. Dan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membayar kasbon yang menumpuk. Bapak saya juga belum panen, musim panen cengkeh belum tiba. Setiap bulan saya harus mengirimi anak sejumlah Rp 2 juta untuk keperluannya di Surabaya. Itupun dibantu oleh bapak saya,” terangnya.

Sambil duduk dan melipat tangannya, dia menceritakan awal mula mengenal barang haram. Bermula dari pertemuan beberapa tahun silam di Kuta dengan seorang yang bernama Maskur.

Lama terpisah, akhirnya keduanya bertemu lagi hingga pihaknya memutuskan menawari Maskur untuk menginap di kosannya. Pasalnya, menurut cerita Maskur, dia harus bolak-balik Negara ke Denpasar karena tak punya kos.

“Dulu pernah ketemu sebagai supir. Saya sebenarnya takut nyentuh barang tersebut karena kepepet ekonomi dan tergiur akhirnya saya pilih jalan itu,” ungkapnya lirih.

Pada pertemuan ketiga, Maskur sengaja main ke kosnya. Lalu dia diajak ke kafe untuk minum dan dikenalin dengan bosnya Maskur.
Perbincangan melalui telepon mengarah tawaran kerja sama dengan berbagai iming-iming uang yang akan diterimanya.

“Awalnya tidak tahu. Saya hanya disuruh mengambil barang dan menempel sisanya dengan upah Rp50 ribu per alamat. Baru saja selesai 12 alamat yang saya tempel di wilayah Sesetan dan Teuku Umar. Setelah semua selesai saya dijanjikan mendapat bonus Rp2 juta,” jelasnya.

  • Linkedin