Menu

Murip, Pemulung yang Berangkat Haji Setelah Nabung Selama 40 Tahun

KE TANAH SUCI: Mbah Murip berangkat haji setelah menambung selama 40 tahun. Arya Dhitya/Jawa Pos

Usaha memang tidak akan membohongi hasil yang didapat. Mbah Murip membuktikan hal itu. Keinginannya untuk berangkat haji kini terwujud berkat kerja keras yang dia lakukan selama 40 tahun.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Murip binti Khasan Hasan tidak mau menutupi perasaannya yang semringah saat duduk di sebuah bangku di lorong Asrama Haji Embarkasi Surabaya Rabu (2/8). Perempuan 70 tahun itu terlihat bersemangat memijat seorang jamaah yang satu rombongan dengannya. Tangan Mbah Murip yang keriput terus-menerus bergerak di bahu ’’pasiennya’’ tersebut.

’’Gantian saya, Mbah, yang dipijit. Lengan saya pegal-pegal,” ucap jamaah asal Lamongan, Srilayani. Ternyata bukan hanya Srilayani yang mengantre pijatan Mbah Murip. Ada lima orang lainnya yang menunggu giliran.

Murip adalah jamaah haji asal Desa Bulubrangsi, Kecamatan Laren, Lamongan. Jamaah dari KBIH An Nahdliyyin tersebut tergabung dalam kloter 17.

Ya, tukang pijat adalah salah satu pekerjaan Mbah Murip. Profesi lainnya adalah pemulung. Saban hari dia mengumpulkan berbagai barang bekas untuk dijual. Mulai kardus bekas, kotak makanan, hingga botol bekas.

’’Kalau tidak mulung, lalu saya kerja apa? Saya hanya bisa seperti ini. Biasanya saya juga disuruh nyapu sekolah dan halaman waktu ada acara,” ujar Mbah Murip. Saat menyapu, dia kerap menemukan barang bekas layak jual yang boleh jadi haknya. Itu yang dijadikannya sebagai tabungan.

Sedikit-sedikit lama-lama menjadi ongkos haji. Mbah Murip menabung dari tiga sumber kehidupannya. Yakni, pemulung, tukang pijat, sekaligus tukang sapu. Dan, dia ingat betul mulai menabung saat umur 30-an tahun. Artinya, celengannya dipelihara selama sekitar empat dekade.

Caranya bersahaja. Barang-barang bekas yang dikumpulkannya tidak langsung dijual. Biasanya barang itu dikumpulkan selama seminggu, baru dilepas ke pembeli. ’’Ada orang yang datang ke rumah buat mengambil,” ceritanya sambil terus memijat jamaah. Sekali transaksi, dia mendapatkan duit sekitar Rp 50 ribu.

Sementara itu, kemampuannya memijat didapatkan secara turun-temurun sejak zaman nenek buyutnya. Dia biasanya menjadi tukang pijat panggilan dari satu rumah ke rumah lain. Namun, tidak tiap hari ada order. ’’Saya nggak pernah mikir soal bayaran. Saya ikhlas dikasih apa pun. Kalau ngasih banyak tapi nggak ikhlas, ya tidak akan jadi rezeki. Ada yang ngasih Rp 20 ribu, bahkan Rp 50 ribu,” ujarnya.

Uang tersebut dititipkannya ke salah seorang pemuka desa. ’’Namanya Haji Toha. Kalau jumlahnya sudah banyak, saya titip. Kalau sudah sampai Rp 1 juta, saya kasihkan,” ujarnya.

Saat tabungan awalnya mencapai Rp 20 juta, Mbah Murip mendaftarkan diri untuk ibadah haji. Awalnya Mbah Murip dijadwalkan berangkat pada 2016. Namun, karena kuota penuh, keberangkatannya pun diundur hingga 2017. ’’Tidak apa-apa mundur. Saya ikhlas, yang penting tetap bisa berangkat.

Mbah Murip tergolong perempuan yang masih lincah meski usianya sudah kepala tujuh. Dia aktif ikut senam lansia di lingkungannya. Tiap malam Jumat, dia juga selalu ikut yasinan. Tak jarang, dia ikut karnaval desa yang tiap tahun diadakan di desa. ’’Saya macak jadi manten. Maklum, saya waktu muda sangat cantik, petinggi desa sampai kecantol,” ujarnya yang disambut tawa jamaah lain.

  • Linkedin