Menu

Ini Air Terjun ‘Tersembunyi’ di Kaki Dolok Martimbang

ALFREDO SIHOMBING
Mangaranap Hutapea, Kepala Desa Hutapea Banuarea, saat berada di lokasi air terjun Soksok Julu di Hutapea Kecamatan Tarutung.
ALFREDO SIHOMBING

MetroTabagsel.com – Warga Kota Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, sendiri tidak banyak yang tahu keberadaan air terjun Soksok Julu. Padahal, air terjun yang berada kaki Dolok Martimbang ini hanya berjarak sekitar 3 kilometer dari spot pemandian Air Soda Desa Parbubu.

“Air terjun di Tarutung? Emang ada ya, dimana?” tanya Bernard Marbun (28), warga Kota Tarutung, yang malah balik bertanya saat diwawancarai awak media, Kamis (12/1).

Tepatnya, air terjun ini terletak di Desa Hutapea Banuarea. Jaraknya hanya sekitar 5,5 kilometer dari pusat Kota Tarutung. Bahkan hanya 30 meter dari Jalan Bagot Tjita, jalan kabupaten/arteri penghubung desa sekitar.

Bersama kepala desa setempat Mangaranap Hutapea, koran ini berkesempatan mendatangi lokasi. Dari persimpangan di Jalan Bagot Tjita, pengunjung dapat menapaki jalan setapak untuk tiba di lokasi. Udara yang sejuk dan pemandangan alam pegunungan nan hijau langsung ‘mengawal’ pengunjung saat melangkahkan kaki.

“Dulu, warga desa memanfaatkan air terjun ini untuk air bersih. Untuk memasak, air minum dan mandi,” kata Mangaranap Hutapea.

Tak sampai 10 menit, kami sudah tiba di lokasi. Ternyata apa yang diceritakan Mangaranap Hutapea tak bohong. Air terjun setinggi sekitar 10 meter itu memang ada. Suasana alaminya masih sangat kuat. Nyaman rasanya menikmati pesona dan udara segar di sekitarnya. Sejenak kami melupakan hiruk pikuk perkotaan.

“Soksok Julu ini bersumber dari mata air di kaki bukit Dolok Martimbang. Sumber airnya keluar dari bebatuan yang ada di atas bukit. Makanya walaupun musim kemarau, debit air Soksok Julu ini tidak berkurang,” terang Mangaranap lagi.

Di bawah air terjunnya terbentuk kolam seluas sekitar 4 meter persegi, dengan kedalaman sekitar 30 centimeter hingga 1 meter. Kolam inilah yang menjadi titik awal Sungai Aek Julu yang mengalir hingga hingga ke Sungai Aek Sigeaon.
Di sekitar air terjun terdapat tebing bebatuan cadas setinggi sekitar 15 meter. Hmmm…! Tampaknya tebing batu itu cukup menggoda bagi pecinta olahraga panjat tebing, khususnya bagi pemula.

Bukti masih alaminya, di kolam dan aliran sungainya masih didapati kepiting-kepiting kecil yang bersembunyi diantara bebatuan sungai yang tersusun secara alamiah. Dan di sepanjang sisi sungainya banyak tumbuh berbagai pohon, termasuk pohon bambu.

Sebenarnya, sambung Mangaranap, ada niatan warga sekitar untuk mengeksplore potensi air terjun ini dengan menjadikannya sebagai objek wisata desa. Namun terbentur oleh dana. Dimana dana desa sendiri masih memprioritaskan pembangunan prasarana jalan menuju areal persawahan dan perladangan sebagai bidang mata pencaharian mayoritas warga desa setempat.

“Harapan kami pemerintah daerah bisa mendukung niatan itu. Misalnya dengan mwngucurkan anggaran untuk pembenahan akses menuju lokasi, seperti misalnya pembangunan jalan bertangga di sisi sungai, agar lebih mudah dicapai, dan fasilitas pendukung lainnya,” harap Mangaranap.Tak terasa, sejam sudah kami terbuai menikmati pesona air terjun yang ‘tersembunyi’ di kaki bukit legendaris itu. (as/int)

  • Linkedin
loading...