Menu

PN Psp Eksekusi Satu Rumah di Luar Sengketa

SammanSiahaan/MetroTabagsel
Bangunan rumah yang menjadi objek eksekusi, Selasa (14/11) di Kampung Jawa, Kelurahan Wek VI, Psp Utara.

MetroTabagsel.com-Erlina Piliang tak menduga rumah orangtuanya juga dieksekusi Pengadilan Negeri Padangsidimpuan, Selasa (14/11). Padahal selama ini, menurutnya tak ada sengketa dengan penggugat yang melakukan gugatan pada 4 nama yang menduduki tanah yang dipersengketakan di Kelurahan Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

Erlina mengaku dan menunjukkan surat tanah milik orangtuanya atasnama Nurjannah Koto kepada panitera dari PN Psp itu. Namun, tetap saja dari tanah seluas 12 kali 9 meter milik mereka, 1 kali 9 meter bangunan diatasnya dirobohkan oleh petugas dari PN atas perintah penggugat.

“Saya sudah tanyakan kapan ini dipersengketakan, tidak pernah. Kemudian kami telah mengukur luasnya dan sesuai dengan bangunan, tetapi kenapa ini diklaim dan langsung dirobohkan juga,” tutur Erlina mengaku akan berusaha menggugat kembali atas sebagian rumah orangtuanya yang telah dirobohkan atas sengketa itu.

Berdasarkan surat PN Psp bernomor W2.U5.2561/HT.04.10/XI/2017 perihal pemberitahuan pelaksanaan /penyerahan tanah dalam perkara nomor No. 13 /Perd/1976/PN Psp yang ditujukan pada Nurjannah Koto, nama tersebut tidak ada dalam daftar tergugat.

Dalam surat yang ditandatangani Ketua PN Psp, atas nama Plh Panitera, Bahari Siregar SH itu. Sehubungan dengan penetapan ketua PN Psp nomor 09/Pdt.Eks/2014/PN Psp jo Nomor 13/Perd/1976//PN Psp yang akan melaksanakan bunyi putusan Pengadilan Negeri Psp  tanggal 30 Agustus 1976 nomor 13/Perd/1976/PN Psp jo Putusan Pengadilan Tinggi Medan tanggal 24 Agustus 1978 nomor 19 /Perd/1977/PT MDN jo putusan Mahkamah Agung RI tanggal 3 November 1983 nomor 2010 K/Sip/1979/ dalam perkara.

Perkara yang dimaksud dalam surat tersebut yakni, Lohot Harahap gelar Tuangku Muda Suaduon  sebagai pemohon eksekusi. Lawannya, Abdullah Nasution sebagai termohon, Sahlan Lubis, Nur Siti Harahap, dan Muhammad Dinin Sikumbang.

“Nama kami disitu tidak ada. Dan kami tidak pernah dipanggil dalam pengadilan. Kemudian, saat diukur tadi disaksikan lurah sampai dari pengadilannya, tanah dan bangunan kami sesuai dalam surat itu luasnya. Tapi kok bisa dieksekusi, dibilangnya (penggugat) ini juga bagian tanahnya, ditanya mana suratnya, dia tidak mau menunjukkan,” ungkap Erlina yang mengaku heran menyaksikan bagian rumah orangtuanya yang telah dibongkar penggugat beserta PN Psp.

Saat eksekusi itu dilangsungkan, keributan antar pemilik rumah dan penggugat serta petugas dari PN Psp turut menjadi pemandangan mengiringi empat bangunan rumah semi permanen dibongkar  (san/osi/mtabag)

  • Linkedin