Menu

Anak Yatim Ngaku Dicabuli, Hasil Visum Negatif, Keluarga Curigai Polisi

26052016-008-cabul
ilustrasi

MetroTabagsel.com – Keinginan Anggrek (nama samaran) mendapatkan keadilan belum terpenuhi. Anak usia 9 tahun yang merupakan korban pencabulan ini telah melapor ke polisi atas kekerasan seksual yang dialaminya. Namun, hasil visum menyatakan negatif hingga proses laporan tak berlanjut. Padahal, sebelumnya mereka juga sudah periksa ke bidan secara pribadi dan dinyatakan bahwa (maaf) alat kelaimannya sudah rusak.

Warga yang empati pun mendampingi korban ke Kantor Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Kota Sibolga, Rabu (25/9). Ditemui di sana, diketahui bahwa korban yang duduk di kelas III di salah satu SD di Kota Sibolga ini selama ini tinggal bersama kakaknya, yang juga masihy SMP, di Kecamatan Sibolga Selatan. Anak ke-3 dari 4 bersaudara pasangan alm Toronaso Mendrofa dan Misnayanti ini mengaku telah dicabuli oleh AW (60) hingga 5 kali.

Diketahui bahwa ayah korban belum lama ini meninggal dunia di kapal saat melaut, sementara ibunya sudah tak peduli dengan mereka pasca kematian ayah mereka.

Keterangan diperoleh di dari pembicaraan antara korban, keluarga, warga yang mendampingi dan pihak Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Kota Sibolga, diketahui bahwa pada Senin (23/10) siang, Anggrek yang baru pulang dari sekolah tiba di rumah, dan tidak lama pelaku datang ke rumah korban dan langsung mengunci pintu rumah korban dan membuka pakaian korban.

Masuknya pelaku ke rumah korban pun menimbulkan kecurigaan warga sekitar. Salah seorang warga pun menggedor pintu rumah korban. Saat itu, pelaku langsung kalang kabut dan hendak kabur dari pintu belakang.

Namun, saksi masih sempat melihat pelaku berupaya memakai celananya dan saksi juga sempat melihat Anggrek sudah tidak memakai celana dalam dan dalam kondisi basah.

“Saat itu saksi masih sempat bertanya kepada korban tentang apa yang mereka lakukan. Namun korban saat itu mengaku tidak apa-apa. Dan, yang bikin saksi semakin curiga, justru malam harinya pelaku mendatangi rumah warga yang menyaksikan tadi dengan membawa batu, pisau dan tidak memakai celana seperti orang gila, berusaha mengancam,” jelas salah seorang warga pendamping Anggrek yang tidak ingin namanya dipublikasikan.

Warga ini pun takut dan mendatangi Kepala Lingkungan Teti Simanjuntak dan menceritakan kejadian tersebut. Setelah saksi menceritakan kejadian tersebut, informasi ini pun segera menyebar di lingkungan tersebut. Warga pun merasa iba pada korban, sebab korban bersama saudaranya yang lain hidup dari belas kasihan warga di lingkungan itu.

“Setelah itu, warga mencoba menginterogasi korban. Dan, yang bikin warga kaget, ternyata dari pengakuan korban bahwa pelaku sudah 5 kali memperkosanya. Dan, setiap pelaku melakukan hal tersebut, korban diberi uang Rp2.500,” jelasnya.

Setelah korban mengaku, warga masih sempat membawa korban untuk diperiksa ke salah satu bidan. Hasilnya, (maaf) kemaluan korban masih lecet kemerah-merahan dan disimpulkan bahwa kemaluan korban sudah rusak. Akhirnya warga melaporkan kasus ini ke Polres Sibolga.

“Namun informasi yang kami dapat, ternyata hasil visum menyatakan kemaluan korban masih bagus. Dan, yang bikin kami bingung, setelah dilapor ke Polres Sibolga, justru Polres Sibolga meminta visum ke RS Pandan. Padahal ada rumah sakit di Kota Sibolga jauh lebih baik,” kesalnya.

Sementara, Anggrek yang ditemui di kantor tersebut mengaku bahwa pelaku sudah 5 kali mencabulinya, baik di (bagian) depan maupun di (bagian)p belakang.

  • Linkedin